Bahlil Tunggu Hasil Negosiasi Sebelum Tentukan Tambahan Volume Impor Migas AS
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia tengah menunggu hasil perundingan antara Tim Negosiasi dengan Pemerintah Amerika Serikat (AS). Hasil negosiasi akan menjadi pertimbangan dalam menentukan penambahan volume impor minyak mentah, liquefied petroleum gas atau LPG hingga bahan bakar minyak alias BBM dari AS.
Menurut Bahlil, dirinya akan segera mengumumkan penambahan jumlah atau volume impor produk petroleum dari AS setelah Indonesia dan AS menyelesaikan negosiasi besaran pengenaan tarif impor resiprokal atau timbal balik ke Indonesia.
"Tim negosiasi kita masih berjalan. Kalau sudah selesai baru, saya bicara jumlahnya," kata Bahlil di Istana Merdeka Jakarta pada Senin (5/5).
Bahlil memastikan pemerintah tidak akan menambah kuota impor produk petroleum nasional. Sebagai gantinya, pemerintah akan mengalihkan sebagian kuota impor dari negara lain untuk meningkatkan impor minyak mentah, LPG, maupun BBM dari Amerika Serikat.
Di sisi lain, Ketua Umum Golkar tersebut enggan menguraikan detail negara-negara yang terkena dampak pengalihan impor migas ke Amerika. Dia mengatakan hitung-hitungan tersebut masih dinegosiasikan oleh Tim Negosiasi dengan Pemerintah AS.
"Setelah negosiasi dengan AS, volumenya berapa, baru saya akan menjelaskan peralihannya dari negara mana saja," ujar Bahlil.
Presiden Prabowo telah mengutus delegasi diplomatik ke Amerika Serikat (AS) untuk menegosiasikan langkah Presiden AS Donald Trump yang mengenakan tarif impor resiprokal atau timbal balik ke Indonesia hingga 32%.
Tim negosiasi itu terdiri dari sejumlah menteri Kabinet Merah Putih, antara lain Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Luar Negeri Sugiono, serta Menteri Keuangan Sri Mulyani.
Prabowo juga sebelumnya memanggil Bahlil ke Istana Merdeka Jakarta pada Kamis (17/4). Pertemuan selama kurang lebih empat jam ini, salah satunya membahas soal langkah pemerintah dalam menyikapi tarif impor Amerika.
Presiden Amerika Donald Trump mengenakan tarif impor minimal 10% dan tarif resiprokal atau timbal balik atas produk asal Indonesia 32%. Penerapannya ditunda 90 hari.
Bahlil menyampaikan pemerintah berencana mengerek porsi impor minyak mentah, liquefied petroleum gas atau LPG hingga bahan bakar minyak alias BBM US$ 10 miliar atau Rp 168,56 triliun dari Amerika.
Hal itu sebagai bagian dari negosiasi pengurangan beban tarif impor kepada Indonesia nantinya. Menurut Bahlil, pemerintah berencana menaikan porsi impor LPG dari AS hingga 80%-85% untuk kebutuhan nasional. “Sekarang kan 54% impor LPG dari Amerika,” kata Bahlil setelah pertemuan.
Selain itu, pemerintah berencana menambah volume impor minyak mentah dari AS hingga 40% dari total kebutuhan dalam negeri. Menurut Bahlil, Indonesia baru membeli minyak mentah dari AS sekitar 4% untuk pemenuhan domestik.
Menurut Bahlil, pemerintah tidak akan menambah kuota impor nasional. Peningkatan impor produk petroleum dari Amerika Serikat dilakukan dengan mengalihkan kuota impor dari negara lain. Dia mengatakan volume pembelian minyak dari Timur Tengah, Afrika, dan Asia Tenggara bakal dikurangi seiring rencana peningkatan impor dari Amerika.
“Tinggal dipindah saja ke Amerika. Itu tidak membebani APBN dan tak menambah kuota impor. Ini persoalan dagang, tidak ada kewajiban bahwa harus sama dengan yang sekarang,” ujar Bahlil.
