Bahlil Sebut RI akan Setop Impor Solar pada Semester II 2026

Mela Syaharani
12 Januari 2026, 16:49
impor solar kilang balikpapan
Pertamina
Fasilitas Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC) Complex di Proyek RDMP Balikpapan.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia berencana akan menghentikan impor seluruh produk solar pada semester kedua 2026. Hal ini menindaklanjuti mulai beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan, Kalimantan Timur.

Indonesia saat ini memiliki dua jenis solar. Pertama, CN48 yang dipakai sebagai bahan bakar mobil-mobil pada umumnya. Kemudian, CN51 yang dipakai untuk alat berat di lokasi ketinggian, seperti yang digunakan PT Freeport Indonesia untuk operasional tambang.

“Solar CN 48 sudah setop impor, CN51 mulai semester dua tahun ini kita tidak impor lagi,” kata Bahlil saat ditemui di lokasi Kilang Balikpapan, Kalimantan Timur, Senin (12/1).

Ia memastikan pemerintah sudah tidak mengeluarkan izin impor Solar CN48  sejak awal tahun ini. Penyetopan tersebut dilakukan sesuai perintah Presiden Prabowo Subianto.

Jika Indonesia pada periode Januari-Februari 2026 masih tercatat impor, maka itu berasal dari sisa kuota atau alokasi 2025. Meski impor berhenti, ia memastikan pemenuhan kebutuhan masih bisa dilakukan melalui produk hasil olah Kilang Balikpapan.

Kilang Balikpapan yang berkapasitas 360 ribu barel ini tidak hanya memproduksi semua jenis solar, tapi juga bensin, LPG, serta produk petrokimia yang ada di Indonesia.

Bahlil menyebut nantinya seluruh perusahaan stasiun bahan bakar minyak (BBM) yang dikelola perusahaan swasta akan membeli langsung produk-produk olahan kilang Pertamina.

“Saya bermimpi, nanti produk BBM RON 92, 95, 98, itu harus diproduksi dalam negeri. Sesuai dengan peraturan menteri dan peraturan presiden sejak 2005 bahwa kita harus memprioritaskan produk dalam negeri,” ujarnya.

Selain menyetop impor solar, beroperasinya Kilang Balikpapan juga akan menambah jumlah produksi bensin dalam negeri. Bahlil mengatakan saat ini total kebutuhan bensin di Indonesia mencapai hampir 40 juta kilo liter (kl). Untuk jumlah produksi bensin dalam negeri hanya sebesar 14 juta kl, ditambah 5,8 juta kl dari Kilang Balikpapan. 

“Dengan penambahan 5,8 juta kl, maka sisa impor bensin kita kurang lebih tinggal 18-19 juta kl,” ucapnya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani
Editor: Sorta Tobing

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...