Oversupply Global Tekan Harga Minyak Mentah RI

Muhammad Almer Sidqi
16 Januari 2026, 16:44
HARGA MINYAK MENTAH INDONESIA
ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/rwa.
Suasana dari kapal tongkang akomodasi (Barge 222) Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES) di Perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Rabu (15/6/2022). Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian memprediksi Indonesian Crude Price (ICP) masih akan mengalami kenaikan sepanjang tahun ini bahkan bisa mencapai 50 persen dari level 2021, dimana harga minyak dunia saat ini sudah mencapai sekitar 120 dolar Amerika per barel yang disebabkan konflik di Rusia dan Ukraina.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat harga rata-rata minyak mentah Indonesia (ICP) pada Desember 2025 turun menjadi US$61,10 per barel. Penurunan ini dipicu oleh kondisi kelebihan pasokan minyak dunia yang menekan harga di pasar global.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan kekhawatiran pasar terhadap potensi kelebihan pasokan menjadi faktor utama pelemahan harga minyak pada akhir 2025. “Terutama akibat tingginya produksi minyak Amerika Serikat,” katanya dikutip dari Antara, Jumat (16/1).

Selain produksi AS yang tinggi, peningkatan suplai dari negara-negara OPEC+ turut menekan harga. Produksi minyak OPEC+ pada November 2025 tercatat mencapai 43,1 juta barel per hari (bph), meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

OPEC juga merevisi naik proyeksi pertumbuhan produksi negara non-OPEC+ pada 2025 menjadi 0,95 juta bph, atau lebih tinggi 40 ribu bph dibandingkan proyeksi sebelumnya.

Di sisi lain, pertumbuhan permintaan justru mengalami pelemahan. S&P Global menurunkan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak 2025 menjadi 730 ribu bph, turun 16 ribu bph dari perkiraan bulan sebelumnya.

Tekanan suplai juga diperkirakan berlanjut dalam jangka menengah. Badan Energi Internasional (IEA) memproyeksikan surplus minyak global pada 2026 mencapai 3,7–4 juta bph. Level ini disebut-sebut melampaui kondisi kelebihan stok saat pandemi Covid-19.

Faktor geopolitik turut memengaruhi pergerakan harga. Laode mengatakan meredanya risiko konflik Rusia-Ukraina, seiring wacana Ukraina menarik aspirasi bergabung dengan NATO, ikut menurunkan premi risiko di pasar minyak. Selain itu, Rusia juga berencana memompa lebih banyak minyak ke pasar dunia. Proyeksi produksinya menjadi 10,36 juta bph pada 2025 dan meningkat lagi ke 10,54 juta bph tahun ini. 

Di kawasan Asia Pasifik, pelemahan harga minyak juga dipengaruhi oleh penurunan aktivitas pengolahan minyak di Cina. Crude throughput Cina pada November 2025 turun 0,9% secara bulanan menjadi 14,86 juta bph, terendah dalam enam bulan terakhir.

Secara bulanan, ICP Desember 2025 turun US$1,73 per barel dibandingkan November 2025 yang sebesar US$62,83 per barel. Penetapan ICP tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 10.K/MG.03/MEM.M/2026 tentang Harga Minyak Mentah Bulan Desember 2025.

Penurunan harga juga terjadi pada minyak mentah acuan global. Harga Dated Brent turun US$0,95 per barel menjadi US$62,70 per barel. West Texas Intermediate (WTI) turun US$1,61 per barel menjadi US$57,87 per barel, sementara Brent ICE melemah US$2,02 per barel menjadi US$61,64 per barel.

Sementara itu, harga Basket OPEC turun US$2,61 per barel menjadi US$61,85 per barel. 

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...