BRIN Kembangkan Steker dan Soket SNI Khusus Pengisi Daya Sepeda Motor Listrik

Ajeng Dwita Ayuningtyas
1 Februari 2026, 12:49
BRIN
ANTARA FOTO/Muhammad Rizky Febriansyah/bay/bar
Pengemudi ojek daring mengganti baterai sepeda motor listriknya di Stasiun Penukaran Baterai Kendaraan Listrik Umum (SPBKLU) Pertamina, Jalan Letjen S Parman, Jakarta, Kamis (9/10/2025). Berdasarkan data Korps Lalu Lintas Kepolisian Republik Indonesia hingga September 2025, jumlah motor dan mobil listrik berbasis baterai di Indonesia mencapai 316.804 unit.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan steker dan soket berstandar nasional (SNI) untuk pengisi daya kendaraan bermotor listrik berbasis baterai (KBLBB) roda dua. Selama ini, standardisasi dianggap jadi persoalan mendasar untuk pengembangan infrastruktur, khususnya pengisian daya cepat (fast charging).

Menurut Peneliti Ahli Madya Pusat Riset Teknologi Kelistrikan BRIN, Eka Rakhman Priandana, tanpa standardisasi steker dan soket, kendaraan listrik berisiko tidak kompatibel dengan stasiun pengisian daya yang tersedia. Risikonya akan lebih terasa saat digunakan untuk berkendara jarak jauh.

“Masalahnya sekarang, motor listrik merek A bisa ngecas di stasiun pengisian A, tapi belum tentu bisa di B atau C. Setiap merek memiliki sistem dan protokol pengisian yang berbeda,” kata Eka seperti dikutip dari keterangan resmi, akhir pekan ini.

Kondisi tersebut mendasari perlunya interoperabilitas atau standar yang membuat kedua sistem berbeda itu bisa berbagi fungsi dengan efektif. 

Tujuan lain dari standardisasi ini adalah untuk menumbuhkan investasi stasiun penukaran baterai kendaraan listrik umum (SPKLU) fast charging yang interoperabel. Steker dan soket usulan BRIN mengacu standar internasional IEC 62196-6. Sementara protokol komunikasinya merujuk pada IEC 61851-25. Desainnya menyesuaikan kondisi lingkungan dan iklim Indonesia. 

Tegangan maksimumnya sebesar 120 volt DC dengan arus mencapai 100 ampere. Material yang digunakan dirancang agar tahan panas dan api. BRIN akan melakukan pengujian enam  tahapan sesuai standar IEC.

“Mulai dari perlindungan terhadap sengatan listrik, kenaikan suhu, hingga ketahanan keausan terhadap aktivitas colok-cabut,” kata Eka.

Saat ini, steker dan soket fast charging KBLBB roda dua yang dikembangkan BRIN sedang dibahas di Badan Standardisasi Nasional (BSN). Eka berharap, komponen tersebut bisa diterapkan secara luas oleh manufaktur kendaraan listrik roda dua di Indonesia. Sekaligus akan diusulkan ke tingkat internasional.

Ekosistem KBLBB Roda Dua 

Menilik data Direktorat IMATAP Kementerian Perindustrian, jumlah KBLBB menunjukkan tren positif. Sepeda motor listrik mencapai lebih dari 225 ribu unit, dari total 333 ribu unit kendaraan listrik per akhir 2025.

Tapi kendalanya, kata Eka, perkembangan infrastruktur untuk KBLBB roda dua masih tertinggal. Kebanyakan kebijakan menekankan skema penukaran baterai melalui SPKLU.

Skema tersebut dianggap akan kurang linear, karena motor listrik berkembang dengan menggunakan baterai tanam, bukan baterai tukar. Baterai tanam yang berukuran besar ini terutama ada pada kendaraan listrik dengan kemampuan jarak tempuh hingga 150 km untuk sekali pengisian.

“Motor yang baterainya besar ini tidak bisa ditukar. Berat baterainya bisa 20-25 kg dan itu bahaya kalau ditukar,” ujar Eka.

Di samping itu, pergeseran juga dipengaruhi perkembangan teknologi baterai ke lithium ferro phosphate (LFP). Densitas energi LFP dinilai bagus, bisa diisi ulang lebih cepat, dan relatif aman. 

Dari sisi biaya, pengisian ulang dengan charging juga dianggap lebih murah dibandingkan skema tukar. Sebab, pada skema tukar pengguna harus mengganti baterai di setiap jarak tertentu dan ada biaya untuk itu. Dengan skema charging, pengguna hanya membayar energi listriknya. 

“Faktor-faktor tersebut yang mendorong pengembangan steker dan soket SNI ini.”

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ajeng Dwita Ayuningtyas
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...