Konflik geopolitik di Selat Hormuz mengancam Indonesia dengan krisis energi karena ketergantungan impor minyak dan gas dari kawasan yang rentan gejolak tersebut.
Kendaraan listrik dapat menjadi alat transportasi alternatif untuk mengurangi ketergantungan pada penggunaan bahan bakar minyak seiring dengan rentannya pasokan BBM akibat konflik di Timur Tengah.
Presiden Prabowo serukan transformasi besar sistem transportasi nasional dengan target penggunaan Kendaraan Listrik secara luas untuk kurangi ketergantungan impor BBM.
Setelah euforia subsidi berakhir, pasar kendaraan listrik Indonesia kini diuji apakah mampu bertahan sebagai kebutuhan nyata atau hanya sekadar tren diskon.
Emiten kendaraan listrik milik Grup Bakrie, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR), bersama Karoseri Laksana mulai menguji coba bus listrik 12 meter di Koridor 1 Trans Semarang.
PT Teknologi Karya Digital Nusa Tbk (TRON) berencana memperluas portofolio bisnis ke sektor infrastruktur kendaraan listrik. Ekspansi ini mencakup pengembangan SPBKLU dan SPKLU.
Tanpa standardisasi steker dan soket, kendaraan listrik berisiko tidak kompatibel dengan stasiun pengisian daya yang tersedia. Risikonya akan lebih terasa saat digunakan untuk berkendara jarak jauh.