Bahlil Minta Blok Masela Mulai Produksi Lebih Cepat pada 2029

Mela Syaharani
12 Februari 2026, 17:16
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan paparan pada konferensi pers capaian kinerja Kementerian ESDM tahun 2025 di Jakarta, Kamis (8/1/2026). Kementerian ESDM pada 2025 mencatat Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) seb
ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/nz
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan paparan pada konferensi pers capaian kinerja Kementerian ESDM tahun 2025 di Jakarta, Kamis (8/1/2026). Kementerian ESDM pada 2025 mencatat Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar Rp138,37 triliun dengan total investasi di sektor ESDM mencapai USD 31,7 miliar serta penyerapan tenaga kerja sebanyak 871.574 orang.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meminta INPEX bisa membuat blok Masela mulai produksi (onstream) pada 2029. Target tersebut lebih cepat setahun dari rencana perusahaan yang akan memulai produksi Blok Masela pada 2030.

“Dia bilang produksinya mulai 2030, saya bilang 2030 sudah pilpres, kamu bikin (onstream) jadi 2029. Saya tidak mau tahu,” kata Bahlil dalam Kuliah Umum Media Indonesia, Kamis (12/2).

Inpex melalui anak usahanya, yakni Inpex Masela Ltd. memegang kendali sebagai operator di Proyek Abadi Masela dengan  kepemilikan saham. INPEX mengelola Lapangan Gas Abadi dengan partisipasi 65%, bersama mitra Pertamina Hulu Energi Masela (20%) dan Petronas Masela Sdn. Bhd. (15%). 

Proyek LNG Abadi mencakup pembangunan dua train likuifaksi LNG di darat dengan total kapasitas produksi sebesar 9,5 juta metrik ton per tahun (MTPA), penyaluran gas pipa sebesar 150 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) untuk kebutuhan domestik, dan produksi kondensat sekitar 35.000 barel per hari (BCPD).

Dia menyebut perkembangan blok Masela sudah memasuki tahap tender mulai tahun ini. Blok Masela merupakan satu dari 300 blok yang sudah disetujui rencana pengembangan (POD) nya oleh pemerintah. 

Blok yang berada di Laut Arafuru ini sudah dikembangkan sejak awal 2000. Bahlil mengatakan kala itu dirinya masih mengenyam pendidikan sekolah dasar.

Menurut Bahlil, pengelolaan Blok Masela sudah terlalu lama tidak menunjukkan perkembangan. Oleh sebab itu saat menjadi Menteri ESDM, dia memberi opsi pada INPEX dengan memberi surat peringatan dan potensi pencabutan kelola pada perusahaan Jepang tersebut.

“Tidak ada urusan, kalau dia mau bawa arbitrase terserah. Pengusaha tidak boleh mengendalikan negara, tapi negara juga tidak boleh dzalim. Sama-sama membutuhkan,” ujarnya.

Groundbreaking Sebelum Lebaran 2026

Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menargetkan Proyek Abadi Masela dapat melakukan peletakan batu pertama alias groundbreaking, sebelum Lebaran tahun ini.  

Kepala SKK Migas Djoko Siswanto menjelaskan, tahapan proyek ini segera memasuki babak baru dengan penyerahan sertifikat Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (Amdal) dari Kementerian Lingkungan Hidup. 

“Mudah-mudahan ini bisa groundbreaking juga sebelum Lebaran. Sekarang sedang persiapan untuk groundbreaking,” ujar Djoko dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (11/2).

Djoko memaparkan, Blok Masela memiliki potensi produksi yang sangat besar. Blok ini diperkirakan menghasilkan kondensat sekitar 35.000 barel per hari (BCPD) serta kapasitas produksi gas mencapai 1.600 MMSCFD. 

Proyek Abadi Masela telah tertunda bertahun-tahun imbas perubahan perencanaan serta keluarnya Shell sebagai konsorsium pengelola. Posisi Shell kemudian digantikan oleh PT Pertamina Hulu Energi Masela dan PETRONAS Masela Sdn. Bhd pada 2023.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...