Bahlil Buka Peluang Impor Minyak dari Brunei

Mela Syaharani
16 Maret 2026, 11:04
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memberikan keterangan pers terkait perjanjian perdagangan timbal balik (ART) Indonesia-AS di bidang ESDM di Washington DC, Amerika Serikat, Jumat (20/2/2026). Dalam ART itu pemerintah Indonesia sepakat untuk mengimpor migas h
ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/YU
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memberikan keterangan pers terkait perjanjian perdagangan timbal balik (ART) Indonesia-AS di bidang ESDM di Washington DC, Amerika Serikat, Jumat (20/2/2026). Dalam ART itu pemerintah Indonesia sepakat untuk mengimpor migas hingga 15 miliar dolar AS atau sekitar Rp 253,47 triliun per tahun dari Amerika Serikat untuk ketahanan energi dalam negeri.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjajaki peluang impor minyak bumi dari Brunei Darussalam. Peluang tersebut diungkap saat kedua negara meneken kerja sama di bidang energi di sela-sela Indo Pacific Energy Security Ministerial and Business Forum (IPEM) di Tokyo, Jepang, Minggu (15/3) waktu setempat.

Bahlil menyebut kerja sama dengan negara tetangga ini dilakukan untuk memperkuat ketahanan energi nasional melalui diversifikasi pasokan minyak. Kapasitas produksi minyak Brunei sekitar 100.000 hingga 110.000 barel per hari.

"Penjajakan impor minyak bumi dari Brunei menjadi salah satu opsi strategis yang kami dorong, sekaligus memastikan ketersediaan pasokan energi nasional tetap dalam kondisi aman," kata Bahlil dalam siaran pers, dikutip Senin (16/3).

Tak hanya peluang impor, kerja sama kedua negara di sektor energi juga meliputi beberapa hal lainnya. Pertama, delegasi Brunei menyampaikan ketertarikannya untuk mempelajari pengembangan diversifikasi pembangkit energi, khususnya yang berasal energi baru terbarukan (EBT).

Menurut Bahlil, Brunei melihat Indonesia telah melangkah lebih maju dan terstruktur dalam mengembangkan pembangkit energi dari berbagai macam sumber energi. Sebanyak 99% pembangkit listrik di Brunei menggunakan gas sebagai sumber energinya. 

“(Mereka) ingin mengurangi porsi pemanfaatan gas untuk pembangkitnya," ujarnya.

Brunei sedang mempersiapkan peningkatan kapasitas terpasang pembangkit listrik nasionalnya. Saat ini kapasitas terpasang mereka 1 gigawatt (gw) dan ingin ditingkatkan lima kali lipat menjadi 5 gw.

Kedua, Brunei juga tertarik dengan pemanfaatan teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) oleh PT. Pertamina (Persero). Teknologi ini digunakan untuk meningkatkan produksi minyak di sumur-sumur minyak tua. 

"Kami siap melakukan kerja sama untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan. Bicara teknis, nanti akan saya siapkan dengan senang hati untuk berbagi dan belajar," ucapnya.

Sementara itu, Dato Seri Paduka Awang Haji Mohamad Azmi, mengungkapkan ketertarikan terhadap EOR karena sudah memiliki pengalaman dalam memanfaatkan  teknologi water flooding. 

"Kita percaya kita bisa belajar dari Indonesia untuk mengoperasikan EOR," katanya.

Di sisi lain, Indonesia juga mendorong peluang investasi yang lebih luas bagi Brunei melalui kerangka Koridor Ekonomi Indonesia (KEI) atau Indonesian Economic Development Corridor (IEDC). 

Melalui skema ini, Brunei diajak untuk berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur ketenagalistrikan, khususnya di wilayah terpencil (remote area) yang memiliki potensi sumber daya alam namun masih membutuhkan dukungan infrastruktur energi.

Kerja sama tersebut juga dirancang mencakup penguatan kapasitas sumber daya manusia melalui program capacity building, mulai dari sektor hulu migas hingga pelatihan auditor energi terbarukan.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...