Ketegangan geopolitik di Selat Hormuz menjadi alarm bagi ketahanan energi Indonesia yang masih bergantung impor minyak, mendesak perlunya strategi transisi yang aman.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyampaikan, sebagian sumber impor minyak mentah yang selama ini berasal dari kawasan Timur Tengah akan dialihkan ke AS Nigeria, Brasil, dan Australia.
Ketahanan energi Indonesia rentan karena cadangan BBM hanya 23 hari dan ketergantungan impor minyak, terutama saat konflik di Timur Tengah mengancam pasokan global.
Indonesia akan mengubah porsi impor minyak mentah dari Asia Tenggara, Timur Tengah, dan Afrika. Hal ini sebagai dampak dari hasil perjanjian tarif perdagangan timbal balik antara Indonesia dan AS.
Bahlil Lahadalia menyampaikan pengiriman minyak mentah maupun bahan bakar minyak (BBM) dari Amerika Serikat (AS) akan mulai berlangsung pada Desember tahun ini.
Pemerintah akan mengizinkan Pertamina membeli komoditas migas dari AS tanpa lelang sebagai bagian dari kesepakatan tarif resiprokal. Ini membuka risiko hukum dan memerlukan pengawasan ketat.
Ancaman tarif Trump membuat Indonesia memburu impor migas “made in America”. Strategi diplomasi dagang yang cerdik atau jalan menuju ketergantungan baru?
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengkritik penurunan drastis produksi minyak Indonesia dan mengindikasikan adanya unsur kesengajaan dalam ketergantungan impor minyak bumi negara.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, mendesak Pertamina untuk tetap mengimpor minyak dari AS meskipun menghadapi waktu pengiriman yang panjang.