Bea Masuk Impor LPG 0% Diperpanjang, Industri Plastik Subtitusi Bahan Baku

Kamila Meilina
23 Juni 2026, 16:36
Pekerja melakukan pengecekan saat uji coba unit Propylene Recovery Unit (PRU) di Kilang Pertamina Balikpapan, Kalimantan Timur, Kamis (4/12/2025). PRU Kilang Pertamina Balikpapan menggunakan kolom fraksinasi (Propane/Propylene Splitter) yang memisahkan pr
ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat/tom.
Pekerja melakukan pengecekan saat uji coba unit Propylene Recovery Unit (PRU) di Kilang Pertamina Balikpapan, Kalimantan Timur, Kamis (4/12/2025). PRU Kilang Pertamina Balikpapan menggunakan kolom fraksinasi (Propane/Propylene Splitter) yang memisahkan propylene dari propane dan gas lainnya dengan memanfaatkan perbedaan titik didihnya itu menghasilkan produk propylene murni yang dapat digunakan sebagai bahan baku industri petrokimia sekitar 23 ton per jam kapasitas desainnya.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pemerintah kembali menetapkan kebijakan bea masuk nol persen untuk impor LPG yang digunakan sebagai bahan baku industri petrokimia serta produksi plastik. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya menjaga stabilitas pasokan dan menekan biaya produksi di tengah ketidakpastian global, termasuk gangguan rantai pasok energi dan bahan baku.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas), Fajar Budiono, menyebut kebijakan tersebut sebagai langkah antisipatif untuk memperkuat keamanan pasokan bahan baku industri, khususnya di tengah risiko ketergantungan terhadap nafta impor.

“LPG ini juga bisa dipakai sebagai substitusi bahan baku selain nafta, tapi tidak bisa banyak, hanya sekitar 30–40 persen,” ujar Fajar kepada Katadata.co.id

Penggunaan LPG sebagai bahan baku alternatif dapat membantu mengurangi ketergantungan terhadap nafta, terutama ketika pasokan global terganggu atau harga mengalami lonjakan akibat faktor geopolitik seperti ketegangan di Selat Hormuz.

Secara teknis industri petrokimia telah menyesuaikan fasilitas produksi agar mampu menggunakan multi-feedstock, termasuk LPG. Dengan demikian, kualitas produksi tidak mengalami perbedaan signifikan.

“Sama saja, mesin sudah dikonfigurasi untuk multi-feed, jadi tidak ada masalah dari sisi proses maupun kualitas,” katanya.

Dari sisi operasional, penggunaan LPG juga dinilai dapat memberikan fleksibilitas biaya produksi. Pada periode tertentu, harga LPG global lebih rendah dibandingkan nafta sehingga berpotensi memberikan efisiensi biaya (cost saving) bagi industri.

Meski demikian, tujuan utama kebijakan ini disebut bukan untuk mengubah struktur harga secara langsung, melainkan menjaga stabilitas produksi dan ketersediaan bahan baku. Ia menyebut utilisasi industri tetap ditargetkan berada di atas 80 persen agar produksi tidak mengalami penurunan.

“Ini lebih ke keamanan pasokan, bukan soal harga. Secara volume, kita ingin supply lebih aman,” ujarnya.

Terkait kondisi pasar domestik, Fajar menyampaikan bahwa saat ini tidak terjadi kelangkaan bahan baku plastik. Namun, dinamika harga masih dipengaruhi oleh fluktuasi pasar internasional serta penyesuaian stok lama yang dibeli dengan harga lebih tinggi.

Ia menjelaskan bahwa harga plastik di pasar masih dalam proses penyesuaian. Dalam beberapa bulan terakhir, harga bahan baku tercatat mengalami penurunan bertahap, ia mencontohkan harga bahan baku plastik jadi dari sekitar Rp35.000 pada April menjadi sekitar Rp27.000, dan kini mendekati Rp21.000 pada akhir Juni.

“Penurunannya sudah cukup jauh, tapi di pasar belum langsung terasa karena masih ada stok lama yang dibeli dengan harga tinggi,” katanya.

Menurutnya, dampak penurunan harga bahan baku akan mulai terlihat dalam satu hingga dua minggu ke depan seiring perputaran stok di pasar.




add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...