Harga Minyak Terus Turun, Morgan Stanley Ingatkan Risiko Kelebihan Pasokan

Mela Syaharani
30 Juni 2026, 10:16
harga minyak, morgan stanley, iran, amerika serikat
Reuters
Kapal tanker berlayar di Teluk, dekat Selat Hormuz, seperti terlihat dari bagian utara Ras al-Khaimah, dekat perbatasan dengan pemerintahan Musandam Oman, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Uni Emirat Arab, pada 11 Maret 2026.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Harga minyak acuan dunia terus turun menuju US$ 70 per barel. Hal ini terjadi seiring dengan arus pelayaran melalui Selat Hormuz yang kembali meningkat setelah adanya kemajuan dalam kesepakatan perdamaian antara Iran dengan Amerika Serikat. 

Harga minyak jenis Brent turun 0,5% menjadi US$ 73,56 per barel pada pukul 09.53 waktu Singapura. Sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) turun 0,6% menjadi US$ 70,33 per barel.

Pemberitaan Bloomberg menyebut kondisi ini mirip dengan penurunan kuartal terbesar sejak pandemi Covid-19. Di saat yang sama, Morgan Stanley memperingatkan potensi terjadinya kelebihan pasokan.

Morgan Stanley telah memangkas proyeksi harga acuan minyak untuk kuartal depan. Bank investasi asal Wall Street tersebut memperingatkan arus pelayaran melalui Selat Hormuz hanya perlu pulih hingga sekitar 65% dari tingkat sebelum konflik agar pasar kembali mengalami kelebihan pasokan.

Perundingan damai antara AS dan Iran masih terus berjalan, meski ada sinyal keduanya saling bertentangan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung selama empat bulan. 

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, mengatakan Teheran akan tetap melanjutkan rencana untuk mengawasi lalu lintas di Selat Hormuz. Iran ingin mencapai kesepakatan dengan Oman terkait pengaturan jalur pelayaran tersebut.

“Tetapi akan tetap menjalankan rencana sendiri apabila diperlukan,” ujar Gharibabadi dikutip dari Bloomberg, Selasa (30/6).

Morgan Stanley mencatat sebanyak 35 kapal tanker minyak dan gas keluar dari Teluk Persia melalui Selat Hormuz pada Kamis lalu. Meski lalu lintas di jalur sempit tersebut sempat tersendat selama akhir pekan akibat konflik memanas, ada indikasi perusahaan pelayaran tanker beserta awak kapalnya mulai bersedia kembali melintasi Selat Hormuz.

Chief Investment Officer Lazard Eric Van Nostrand mengatakan pasar cenderung bergerak mengikuti kondisi jangka pendek. "Hal ini membuat banyak pelaku pasar berspekulasi dan mengambil posisi dengan ekspektasi harga minyak akan lebih murah," ujarnya.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...