Pengganti LPG 3 Kg Mulai Diuji, Pertagas Siapkan Infrastruktur CNG

Mela Syaharani
8 Juli 2026, 20:16
cng, LPG 3 kg, elpiji, pertagas
ANTARA FOTO/Fikri Yusuf/wsj.
Petugas mengisi tabung dengan Compressed Natural Gas (CNG) yang akan didistribusikan ke pelanggan di kawasan Mengwi, Badung, Bali, Jumat (4/11/2022).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

PT Pertamina Gas (Pertagas) menyatakan siap mendukung implementasi program gas alam terkompresi atau Compressed Natural Gas (CNG) sebagai alternatif pengganti liquefied petroleum gas (LPG) 3 kilogram (kg). Dukungan ini akan diberikan melalui penyediaan infrastruktur apabila pemerintah resmi menjalankan program tersebut.

Sekretaris Perusahaan Pertagas Sulthani Adil Mangatur mengatakan perusahaan siap mengambil peran sesuai pengugasan pemerintah.

Prinsipnya nanti jika kami diminta untuk ikut serta dalam program, kami siap mendukung. Misalnya mengambil peran dari segi infrastruktur, kata Sulthani saat ditemui di Stasiun Kompresor Gas Tegalgede, Cikarang, Jawa Barat, Rabu (8/7).

Ia menjelaskan, secara konsep CNG dapat disalurkan melalui stasiun kompresi maupun dialirkan ke titik-titik tertentu. Menurutnya, kemampuan itu menjadi salah satu peran yang dapat menjalankan Pertagas.

Meski begitu, Pertagas masih menunggu ketentuan teknis dari Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas), termasuk skema bisnis yang akan ditetapkan pemerintah.

“Bicara soal teknisnya, masih melihat ketetapannya dari Ditjen Migas seperti apa, termasuk juga skema bisnis dari pemerintah,” ujarnya.

Program tabung CNG "Merah Putih" merupakan inisiatif Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) untuk menyediakan alternatif pengganti LPG 3 kg yang selama ini mendapat subsidi pemerintah.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan pemerintah akan mulai menguji prototipe tabung CNG 3 kg pada Juli.

“Pada bulan Juli ini ada prototipe untuk diuji, jumlahnya mungkin sekitar 15 unit,” kata Laode saat ditemui di Kompleks DPR RI pada 29 Juni.

Menurut Laode, tabung yang akan diuji masih merupakan produk impor dari Cina. Pengujian akan dilakukan di Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) dengan mencakup uji tekanan serta uji keamanan katup (valve) tabung.

Apabila lolos seluruh tahapan pengujian dan evaluasi, tabung CNG Merah Putih akan mati secara bertahap dengan prioritas kota-kota besar di Pulau Jawa.

Pemerintah juga mengklaim harga jual tabung CNG akan disamakan dengan harga LPG subsidi 3 kg sehingga masyarakat tidak perlu membayar lebih mahal. Menurut simulasi pemerintah, penggunaan CNG berpotensi menurunkan beban subsidi tabung gas hingga sekitar 30%.

“Harganya sama, sekarang simulasinya disamakan, subsidi untuk tabung gas bisa turun sampai 30%,” ujar Laode.

Laode menambahkan pendanaan program tersebut tidak berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), meski ia belum menyediakan sumber pembiayaannya.

Meski prototipe awal masih diimpor dari Cina, pemerintah membuka peluang produksi tabung CNG di dalam negeri jika kebutuhan meningkat. Menurut Laode, besarnya permintaan akan menciptakan daya tarik bagi investor untuk membangun industri manufaktur tabung CNG di Indonesia.

“Iya, peluangnya besar,” kata Laode ketika ditanya mengenai peluang investasi.

Pertagas merupakan anak usaha Subholding Gas Pertamina yang mengelola infrastruktur transmisi dan distribusi gas bumi di Indonesia. Kesiapan infrastruktur perusahaan dinilai menjadi salah satu faktor penting apabila program CNG Merah Putih mulai diimplementasikan secara bertahap.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...