Harga Minyak Dekati US$ 80 per Barel Imbas Aksi Saling Serang AS - Iran
Harga minyak acuan dunia terus melonjak setelah kembali terjadinya aksi saling serang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di Timur Tengah. Kedua pihak menyatakan hal bertentangan terkait akses pelayaran di Selat Hormuz.
Iran menyatakan pelayaran di Selat Hormuz ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut. Hal ini ditentang oleh Komando Pusat AS (US Central Command/Centcom), yang mengatakan pasukannya kembali melancarkan serangan untuk memastikan kebebasan pelayaran di jalur laut tersebut.
Harga minyak Brent naik 4,1% menjadi US$ 79,14 per barel pada pukul 10.01 waktu Singapura. Sementara harga West Texas Intermediate naik 4,2% menjadi US$ 74,42 per barel.
Serangan pada Minggu sore merupakan aksi militer keempat AS dalam sepekan. Centcom menyebut operasi itu dilakukan sebagai respons atas serangan Iran terhadap sebuah kapal kontainer berbendera Siprus.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (Islamic Revolutionary Guard Corps/IRGC) kembali menembaki kapal-kapal komersial, sementara pesawat tempur AS berhasil mencegat rudal jelajah dan drone serang milik Iran.
Ketidakpastian tersebut kembali memunculkan premi risiko perang (war premium) dalam harga minyak mentah. Sebelumnya harga minyak sempat stabil turun setelah tercapainya kesepakatan damai sementara, yang membuka peluang tambahan pasokan minyak dari Teluk Persia.
Namun hal ini tak berlangsung lama sebab perang di Timur Tengah kembali memanas, berisiko menggagalkan potensi bertambahnya persediaan minyak global yang telah menipis pada paruh akhir tahun ini. Kondisi tersebut menjadi pengingat besarnya dampak yang dapat ditimbulkan terhadap perekonomian global jika perang terus berlanjut.
Analis senior energi MST Marquee, Saul Kavonic mengatakan eskalasi terbaru memang meningkatkan ketegangan, tetapi masih jauh lebih kecil dari perang yang terbuka secara penuh.
"Kemungkinan harga minyak akan terus bergerak naik secara bertahap, selama serangan masih berlangsung dan lalu lintas melalui Selat Hormuz berjalan dengan penuh kehati-hatian," ujarnya dikutip dari Bloomberg, Senin (13/7).
Tak hanya minyak, kenaikan harga juga terjadi di pada komoditas gas alam Eropa. Kontrak berjangka gas sempat naik hingga 2,7% setelah melonjak hampir 8% sepanjang pekan lalu. Kenaikan harga ini dipicu oleh kekhawatiran eskalasi konflik dapat menghambat pengiriman dari negara-negara produsen di Teluk Persia.
Bloomberg mencatat, hampir tidak ada aktivitas pelayaran kapal di Selat Hormuz hari ini. Jalur perairan ini pada kondisi normal biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia. Kondisi ini memperpanjang perlambatan yang telah terjadi sejak ketegangan meningkat pekan lalu. Meski demikian, Joint Maritime Information Center menyatakan jalur pelayaran di sisi selatan yang dikoordinasikan Oman masih dapat digunakan.
Selama akhir pekan, media Iran melaporkan terdengar ledakan di wilayah timur Bandar Abbas, dekat Selat Hormuz. Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan drone dan rudal ke sejumlah sekutu AS di Timur Tengah, termasuk Kuwait, Yordania, dan Qatar. Menurut Kavonic, apabila konflik meluas hingga menyasar infrastruktur energi secara lebih luas di kawasan tersebut, harga minyak berpotensi melonjak hingga US$ 100 per barel.
