Harga Minyak Naik jadi US$ 95 per Barel Usai Houthi Serang Tanker di Laut Merah

Mela Syaharani
23 Juli 2026, 08:41
harga minyak, arab saudi, houthi
Vecteezy.com/Fahim Hamim
Ilustrasi kenaikan harga minyak.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Harga minyak acuan dunia terus melanjutkan tren kenaikan hingga Kamis (23/7). Hal tersebut terjadi setelah kelompok militan Houthi yang didukung Iran menyerang dua kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah.

Serangan tersebut meningkatkan eskalasi konflik di Timur Tengah dan memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak yang lebih luas.

Harga minyak Brent naik 1,3% menjadi US$ 95,25 per barel pada pukul 08.01 waktu Singapura. Sementara itu harga minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat 1% menjadi US$ 87,71 per barel.

Harga Brent telah melonjak hampir 30% sepanjang bulan ini. Sejumlah analis memperkirakan harga minyak dapat kembali menembus US$ 100 per barel pada akhir tahun apabila konflik di Timur Tengah terus berlanjut. 

Eskalasi Timur Tengah kembali memanas ketika Pasukan Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran selama 12 hari berturut-turut. Teheran kemudian membalas dengan menyerang Kuwait, yang menjadi sasaran utama aksi realisasinya.

Awal pekan ini, kelompok Houthi mengeluarkan ancaman untuk memblokade pelayaran Arab Saudi di Laut Merah. Jalur laut tersebut menjadi rute ekspor alternatif penting bagi Arab Saudi karena memungkinkan negara itu menghindari Selat Hormuz dan mengekspor jutaan barel minyak per hari ke pasar global.

Kelompok Houthi mengatakan serangan dengan peluncuran rudal dan drone pada kedua kapal karena dianggap melanggar blokade. Kelompok tersebut mengidentifikasi kapal yang diserang sebagai Encelia dan Layla.

Serangan ini menjadi aksi pertama yang menargetkan kapal tanker minyak di Laut Merah. Kondisi ini membuka front baru dalam konflik kawasan yang sebelumnya telah mengganggu lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz akibat meningkatnya kekerasan.

Dalam beberapa hari terakhir, Iran juga menyerang kapal-kapal di jalur sempit tersebut, yang merupakan rute vital bagi ekspor minyak mentah dari Teluk Persia.

Serangan di Laut Merah merupakan eskalasi serius dalam konflik, kata Daniel Hynes, Kepala Strategi Komoditas di ANZ Group Holdings Ltd. Menurut dia, apabila jalur tersebut terganggu, ketatnya pasokan di pasar minyak akan semakin memburuk.

Analis pasar di Phillip Nova Pte, Priyanka Sachdeva, mengatakan keberlanjutan reli harga minyak akan bergantung pada serangan di Laut Merah. Menurut dia, dalam kondisi tersebut, pelaku pasar yang optimistis terhadap kenaikan harga dapat dengan nyaman membidik level US$ 100 per barel untuk Brent.

Kondisi kenaikan harga minyak diperparah dengan sikap AS dan Iran yang sama-sama meredam harapan akan dimulainya perundingan damai. Hal ini meningkatkan kemungkinan konflik berlangsung lebih lama dan memperketat pasokan minyak global. 

Presiden Donald Trump mengancam akan mengebom jembatan dan pembangkit listrik di Iran. Dia juga kembali menegaskan ancaman menyerang Pickaxe Mountain, lokasi yang diduga menjadi fasilitas nuklir Iran.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...