Proyek Gasifikasi Batu Bara ke Metanol BEC Beroperasi Penuh 2030

Mela Syaharani
29 Juli 2026, 20:52
Gasifikasi Batu Bara
Katadata/Mela Syaharani
Presiden Direktur PT Bumi Etam Chemical (BEC), Rio Supin, saat penandatanganan proyek gasifikasi batu bara menjadi metanol di Jakarta, Rabu (29/7).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

PT Bumi Etam Chemical (BEC) menyatakan proyek hilirisasi batu bara menjadi metanol ditargetkan beroperasi penuh pada 2030. Sebelum mencapai titik tersebut, proyek yang berada di Kalimantan Timur itu ditargetkan memulai tahap uji coba atau komisioning pada 2029.

BEC merupakan perusahaan patungan PT Arutmin Indonesia (Arutmin) dan PT Kaltim Prima Coal (KPC), bersama PT Istana Karang Laut (IKL) dan China National Chemical Engineering Co., Ltd. (CNCEC). 

“Di Tahun 2030 (harapannya) proyek ini secara komersial bisa memproduksi (metanol) 2 juta ton per tahun,” kata Presiden Direktur BEC, Rio Supin, dalam acara penandatangan FEED dan EPCC di Jakarta, Rabu (29/7).

Perusahaan menyebut pengembangan fasilitas coal-to-methanol oleh BEC merupakan bagian dari pelaksanaan kewajiban peningkatan nilai tambah batu bara oleh Arutmin dan KPC. Proyek itu juga dijalankan untuk mendukung implementasi kebijakan hilirisasi nasional melalui konversi batubara menjadi metanol sebagai bahan baku untuk berbagai sektor industri, termasuk petrokimia, manufaktur, energi, dan industri turunannya.

Dalam pengembangan proyeknya, BEC menggandeng IKL dan CNCEC sebagai mitra yang akan mendukung pelaksanaan proyek dari tahap perencanaan hingga konstruksi dan commissioning.

Rio menjelaskan, proyek tersebut sudah melewati perjalanan panjang. Sebetulnya, upaya sudah dimulai dua dekade lalu ketika KPC mulai mencari lokasi dan rencana pengembangan hilirisasi batu bara.

Rencana hilirisasi terus berjalan, hingga akhirnya KPC dan Arutmin memutuskan untuk membentuk unit usaha baru guna menjalankan proyek hilirisasi batu bara di Indonesia pada 2023.

Pendirian usaha itu sesuai dengan Undang-Undang nomor 3 tahun 2020 dan PP 96 tahun 2021. Aturan tersebut memungkinkan perusahaan yang memiliki kewajiban hilirisasi untuk bekerja sama dengan kondisi, pemegang saham harus menjaga 25% kepemilikan secara langsung di pada perusahaan. 

Pada 2023 PT Bumi Etam Chemical juga telah ditetapkan oleh Menko Perekonomian sebagai salah satu proyek strategis nasional sesuai dengan Permenko Perekonomian nomor 8 tahun 2023.

Setelah pendirian BEC, pengembangan proyek hilirisasi terus berlanjut. Rio menyebut saat ini BEC sudah mengantongi izin dan kebutuhan dasar.  Proyek yang diperkirakan menyerap biaya lebih dari US$ 2,3 atau setara Rp 41,5 triliun (kurs Rp 18.056 per dolar AS) itu akan dibangun di Batuta Chemical Industrial Park.

“Sebenarnya dari 2020 telah kami mulai (proyeknya) tetapi sempat vakum, dan di 2025 lalu kami lakukan kembali pematangan lahan. Lokasi proyek berada di Kabupaten Kutai Timur, Provinsi Kalimantan Timur, dekat dengan pelabuhan PT KPC,” ujarnya.

Ketika sudah beroperasi penuh, proyek tersebut akan memproduksi 2 juta ton metanol per tahun pada tahap pertama. Namun pada kapasitas maksimalnya, KPC dan Arutmin menargetkan proyek itu bisa memproduksi metanol hingga 3,6 juta ton per tahun.

Proyek yang juga menghasilkan produk samping berupa sulfuric acid tersebut rencananya akan menggunakan batu bara kalori rendah dengan kandungan 3.300 kcal/kg GAR.

Hari ini, BEC telah menandatangani kontrak tahap perencanaan dan desain teknis awal (FEED) dan kontrak tahap pengadaan, pembangunan, dan pengoperasian awal (EPCC) untuk proyek tersebut.

“Setelah penandatanganan EPCC dan FEED ini, kami masih harus melalui langkah panjang. Kami akan menuju tahap rekayasa semoga tidak lama lagi akan memasuki tahap groundbreaking proyek fisik di masa yang akan datang,” ucapnya.

Alasan Pemilihan Metanol

Rio mengatakan, produk metanol hasil proyek gasifikasi batu bara akan dipasarkan untuk kebutuhan domestik. Dia menyebut hal ini bertujuan untuk mensubstitusi impor metanol yang saat ini mendominasi kebutuhan dalam negeri. 

“Jadi target utama kami memang dari awal untuk mengganti impor, tujuan utamanya pasar domestik,” kata Rio 

Berdasarkan data BPS, jumlah kebutuhan metanol Indonesia mencapai 1,9 juta ton pada 2025. Dari jumlah tersebut, 1,3 juta ton atau 68%-nya dipenuhi dari impor.  

Dia menyebut berdasarkan data kebutuhan, impor dan hasil studi yang dilakukan, perusahaan memutuskan untuk melakukan hilirisasi batu bara menjadi metanol.

“Pada 2025, kita menghabiskan devisa sekitar US$ 400 juta per tahun untuk impor metanol. Nilai impor ini setara Rp 7,1 triliun,” ujarnya. 

Rio mengatakan kondisi geopolitik dan perang Timur Tengah yang berlangsung tahun ini, membuat harga metanol naik secara signifikan. Dia menyebut dengan situasi  ini diperkirakan jumlah devisa Indonesia yang keluar untuk impor metanol makin besar.

Metanol salah satunya digunakan sebagai bahan pembentuk biodiesel. Indonesia saat ini telah menetapkan kewajiban penerapan biodiesel 50% atau B50 mulai Juli 2026.

Menurut Rio, semakin tinggi persentase biodiesel yang digunakan, maka membutuhkan lebih banyak metanol. Dia menyebut ada beberapa pihak yang menyatakan minat sebagai pembeli atau offtaker produk metanol mereka. 

“Kami sudah teken kesepakatan dengan beberapa pihak, namun ini masih sangat awal. Mereka masih menunggu perkembangan proyek ini, setelah nanti mencapai titik tertentu maka kami akan memasuki tahap kesepakatan pembelian. Targetnya tetap pasar domestik, kalau ada sisa baru kami ekspor,” ucapnya.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani
Editor: Ahmad Islamy

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...