Anak Usaha BUMI Mulai Proyek Gasifikasi Batu Bara, Targetkan 2 Juta Ton Metanol
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot meresmikan peletakan batu pertama atau groundbreaking proyek hilirisasi berupa gasifikasi batu bara menjadi metanol. Hilirisasi tersebut berada di kawasan Batuta Chemical Industrial Park (BCIP), Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur.
Proyek ini dikembangkan oleh PT Bumi Etam Chemical (BEC), perusahaan patungan PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal (KPC) yang merupakan anak usaha Bumi Resources (BUMI). Pembangunan proyek ini akan memanfaatkan lahan sekitar 93 hektare di kawasan BCIP.
Yuliot menyebut groundbreaking ini menjadi langkah awal dimulainya pembangunan industri methanol berbasis hilirisasi batu bara.
"Proyek ini merupakan bagian dari upaya kita untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, memperkuat industri dalam negeri, mengurangi ketergantungan terhadap impor, serta mendukung ketahanan dan kemandirian energi nasional," kata Yuliot dalam siaran pers, dikutip Rabu (2/9).
Rencana hilirisasi ini masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) yang ditargetkan menghasilkan sekitar 2 juta ton metanol per tahun dan berpotensi menghemat devisa hingga Rp 7,1 triliun per tahun.
Yuliot berharap hilirisasi BEC dapat menjadi model bagi perusahaan batubara lainnya, mengingat besarnya potensi batubara berkalori rendah di Kalimantan dan Sumatra.
"Kami akan terus mendorong hilirisasi yang telah ditetapkan oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai prioritas pembangunan semasa kepemimpinan Beliau dalam (program) Asta Cita," ujar Yuliot.
Proyek ini akan mengolah sekitar 7,70-7,78 juta ton batu bara berkalori 3.400 kcal/kg per tahun menjadi metanol berstandar internasional, yaitu International Methanol Producers and Consumers Association (IMPCA) Grade.
Produksi ditargetkan sekitar 2 juta ton metanol per tahun untuk memenuhi kebutuhan domestik, dan mengurangi ketergantungan terhadap impor, mengingat pada 2025, Indonesia masih mengimpor sebesar 1,3 juta ton metanol senilai Rp 7,1 triliun
"Kami berharap dengan proyek yang memberikan efek berganda yang nyata bagi seluruh stakeholder, baik penciptaan lapangan kerja tumbuhnya industri pendukung serta peningkatan aktivitas ekonomi," ucap Yuliot.
Guna menunjang kegiatan operasional, proyek ini dilengkapi fasilitas gasifikasi, reaktor sintesis, pembangkit listrik, pengolahan air, dan terminal pelabuhan. Teknologinya juga disiapkan untuk mengendalikan emisi dan terintegrasi dengan Carbon Capture and Storage (CCS).
Metanol yang dihasilkan dari proyek ini akan dipasok untuk kebutuhan industri, terutama petrokimia dan formaldehida, serta mendukung pengembangan FAME dan program B50.
Pada kesempatan yang sama, Presiden Direktur BEC Rio Supin mengatakan perusahaan telah memasuki tahap engineering melalui penyusunan Front-End Engineering Design (FEED) dan Engineering, Procurement, Construction, and Commissioning (EPCC) Framework Agreement bersama PT Istana Karang Laut (IKL) dan China National Chemical Engineering Co., Ltd. (CNCEC) sejak 29 Juli 2026.
"Proyek Gasifikasi Batubara Pertama di Indonesia siap memasuki implementasi target commissioning 2029 sesuai arahan Pak Menteri. BEC siap mendukung kemandirian dan ketahanan energi nasional," kata Rio dalam kesempatan yang sama.
