Harga Minyak Turun Tipis Usai Trump Sebut Serangan ke Iran Tak Berlangsung Lama
Harga minyak acuan dunia turun tipis menyusul pernyataan Presiden Donald Trump bahwa serangan terbaru terhadap Iran tidak akan berlangsung lama. Pejabat Amerika Serikat (AS) mengisyaratkan arus energi melalui Selat Hormuz tetap berjalan.
Harga minyak Brent turun 0,4% menjadi US$ 95,20 per barel pada pukul 08.16 waktu Singapura. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) turun 0,3% menjadi US$ 90,76 per barel.
Pergerakan harga minyak mentah naik hampir 60% sepanjang tahun ini, sementara produk olahan seperti diesel mengalami kenaikan yang bahkan lebih tajam akibat konflik di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina.
“(Serangan ke Iran) saya rasa tidak akan terlalu lama, kami siap melakukannya lagi,” kata Trump dikutip dari Bloomberg, Kamis (3/9).
Serangan AS ini terjadi setelah beberapa pekan relatif tenang. Iran kemudian merespons dengan meluncurkan drone dan rudal ke sejumlah pangkalan militer AS di seluruh Timur Tengah, mengikuti pola yang telah digunakan selama enam bulan perang berlangsung.
“Eskalasi terbaru seharusnya tetap memberikan dukungan terhadap pasar. Namun, perlu diingat bahwa AS dan Iran sama-sama sedang mencari jalan keluar dari situasi ini. Pembicaraan damai lebih lanjut dapat dengan cepat menekan harga,” kata wakil presiden senior bidang perdagangan di BOK Financial Securities Inc., Dennis Kissler.
Meski demikian, baik AS maupun Iran belum menunjukkan kesediaan untuk kembali ke meja perundingan sejak kesepakatan damai sementara yang dicapai pada Juni runtuh.
Menurut dua pejabat yang mengetahui masalah tersebut, militer AS telah mengawal 40 kapal melewati jalur perairan tersebut yang membawa 18 juta barel minyak. Mereka juga mengatakan pengiriman minyak mentah yang keluar dari Teluk Persia tetap berlangsung secara konsisten, meskipun ancaman terhadap pelayaran masih terus terjadi.
Pekan ini, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan sebanyak 17 juta barel minyak keluar dari jalur perairan tersebut, dengan arus pengiriman rata-rata sekitar 8 juta barel per hari.
“Pasar minyak global mulai kembali mendekati keseimbangan karena pasokan minyak terus keluar dari Teluk Persia. Namun, risiko masih tetap ada,” kata CEO Chevron Corp., Mike Wirth.
Ia menyampaikan bahwa eskalasi permusuhan antara AS dan Iran pada pekan ini menjadi salah satu kekhawatiran.
Secara terpisah, persediaan minyak mentah AS turun 4,5 juta barel pada pekan lalu. Ini merupakan penurunan pertama sejak akhir Juli, berdasarkan data Energy Information Administration (EIA).
Persediaan minyak di pusat penyimpanan utama di Cushing, Oklahoma, naik tipis menjadi 22,5 juta barel, sementara stok bensin mengalami penurunan.
