Hadapi Lonjakan Listrik, Indonesia Perlu Siapkan Sistem Energi yang Fleksibel

Ardhia Annisa Putri
Oleh Ardhia Annisa Putri - Tim Publikasi Katadata
16 September 2026, 16:44
Hadapi Lonjakan Listrik, Indonesia Perlu Siapkan Sistem Energi yang Fleksibel
Katadata
Sesi Indonesia’s Strategic Wager: Planning Future Demand, Powering Sustainable Growth, dalam Katadata SAFE 2026, Rabu (16/9/2026).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pertumbuhan ekonomi dan industrialisasi Indonesia berpotensi mendorong lonjakan kebutuhan listrik dalam beberapa dekade mendatang.

Selain industri, permintaan juga datang dari pusat data, bangunan, kendaraan listrik, hingga elektrifikasi rumah tangga. Kondisi ini membuat Indonesia perlu menyiapkan sistem energi yang tidak hanya mampu memasok listrik lebih banyak, tetapi juga lebih efisien dan fleksibel.

GIZ Energy Programme Director Lisa Tinschert mengatakan, Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan industrialisasi seiring pertumbuhan ekonomi dan keberadaan tenaga kerja. Namun, peluang tersebut juga akan diikuti peningkatan kebutuhan listrik, terutama dari sektor industri.

“Industri merupakan salah satu sektor yang akan berkontribusi signifikan terhadap peningkatan permintaan listrik,” ujar Lisa dalam Katadata SAFE 2026 pada sesi bertajuk Indonesia’s Strategic Wager: Planning Future Demand, Powering Sustainable Growth, Rabu (16/9/2026).

Menurut Lisa, pusat data menjadi salah satu sumber permintaan listrik yang relatif baru dan masih sulit diproyeksikan. Tidak hanya soal seberapa besar pertumbuhannya, pusat data juga memiliki karakteristik beban yang berbeda sehingga perlu diperhitungkan dalam perencanaan jaringan.

Kebutuhan listrik dari bangunan juga akan terus meningkat, terutama untuk pendinginan di sektor rumah tangga dan industri. Hal serupa terjadi pada sektor transportasi seiring meningkatnya penggunaan kendaraan listrik. Elektrifikasi juga dapat meluas ke kebutuhan rumah tangga, seperti penggunaan kompor listrik.

“Secara umum, ada dorongan menuju elektrifikasi dan pertumbuhan permintaan energi yang signifikan. Indonesia sekarang berada di persimpangan untuk menentukan dari mana kapasitas pembangkitan baru tersebut akan berasal,” kata Lisa.

Namun, menurut Lisa, menjawab pertumbuhan permintaan listrik tidak cukup hanya dengan menambah pembangkit. Cara penggunaan energi juga perlu menjadi perhatian melalui peningkatan efisiensi.

Efisiensi tersebut, kata Lisa, dapat membantu Indonesia memisahkan pertumbuhan ekonomi dari pertumbuhan konsumsi listrik.

Dengan semakin efisiennya penggunaan energi, pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak harus selalu menghasilkan peningkatan konsumsi listrik. Pada saat yang sama, langkah tersebut dapat membantu mengurangi emisi.

Di sisi lain, Managing Director of Development Investment Danantara Development Management Fund (DDMF) Rachmat Kaimuddin menilai fleksibilitas sistem juga perlu diterjemahkan ke dalam desain pembiayaan energi.

Menurut dia, pengembangan sistem energi perlu mempertimbangkan sumber daya yang tersedia, infrastruktur yang sudah dibangun, serta pola konsumsi masyarakat.

Rachmat mencontohkan, peningkatan pembangkit surya perlu diikuti kesiapan jaringan dan perubahan pola penggunaan listrik agar produksi energi pada siang hari dapat terserap.

“Kalau kita memiliki 100 gigawatt listrik dari tenaga surya, kita harus memikirkan apakah kita memiliki beban untuk menyerapnya dan apakah ada penggunaan energi yang bisa dialihkan ke siang hari,” ujar Rachmat.

Menurut Rachmat, pembiayaan pembangunan juga perlu mempertimbangkan kebutuhan fleksibilitas tersebut.

Peran Lembaga Pembiayaan

DDMF memiliki mandat untuk mendukung proyek pembangunan jangka panjang dan dapat memberikan pembiayaan dengan karakter yang lebih fleksibel. Ia menilai lembaga pembiayaan pembangunan juga dapat membantu menurunkan risiko serta mempersiapkan proyek agar lebih mudah menarik investasi swasta.

Lisa melihat langkah tersebut dapat berjalan beriringan dengan peluang besar Indonesia dalam pengembangan energi surya.

Menurutnya, Indonesia memiliki potensi surya yang besar sekaligus kesempatan membangun ekosistem industri hijau, termasuk baterai dan kendaraan listrik.

“Saya sangat percaya bahwa revolusi tenaga surya akan segera dimulai di Indonesia. Energi surya akan membawa listrik yang lebih murah dan dapat meningkatkan daya saing Indonesia secara global,” kata Lisa.

Lisa menilai kombinasi energi hijau, efisiensi, fleksibilitas sistem, dan pengembangan industri dapat menjadi bagian penting dari perjalanan Indonesia menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan.

Katadata SAFE 2026, merupakan forum tahunan yang telah diselenggarakan sejak 2020 sebagai ruang bagi pemerintah, dunia usaha, investor, akademisi, dan masyarakat untuk membahas berbagai tantangan serta peluang menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan.

Memasuki tahun ketujuh, Katadata SAFE 2026 mengusung tema “The Green Changer” dan berlangsung pada 16–17 September 2026 di Sudirman Hall, Sequis Tower, SCBD Jakarta. Melalui rangkaian forum, lokakarya, pameran interaktif, serta kolaborasi lintas sektor, SAFE mendorong pertukaran gagasan dan aksi nyata untuk memperkuat ekonomi Indonesia yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...