Bahlil Bantah RKAB Bayan Resources Terbit karena Akuisisi Saham Haji Isam

Mela Syaharani
22 September 2026, 16:25
Menteri ESDM sekaligus Ketua Harian Dewan Energi Nasional (DEN) Bahlil Lahadalia (kanan) bersama anggota DEN Satya Widya Yudha memberikan keterangan pers seusai sidang paripurna DEN yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis
ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/kye
Menteri ESDM sekaligus Ketua Harian Dewan Energi Nasional (DEN) Bahlil Lahadalia (kanan) bersama anggota DEN Satya Widya Yudha memberikan keterangan pers seusai sidang paripurna DEN yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (17/9/2026). Sidang tersebut membahas sejumlah isu strategis sektor energi nasional di antaranya penguatan kemandirian energi nasional dan program mandatori pencampuran bioetanol 20 persen (E20) yang bertahap menjadi (E50) pada BBM.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membantah terbitnya tambahan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) tiga anak usaha Bayan Resources (BYAN) berkaitan dengan rencana akuisisi saham yang dilakukan oleh pengusaha Andi Syamsudin Arsyad atau Haji Isam.

“Tidak ada (kaitannya, RKAB) itu kan berproses saja. Persoalan transaksi (saham) itu kan dilakukan secara bisnis ke bisnis, kalau RKAB itu kan urusan proses,” kata Bahlil saat ditemui usai acara Electricity Connect 2026 di ICE BSD, Tangerang, Selasa (22/9).

Pemerintah sebelumnya telah menambah kuota produksi tambang batu bara Bayan hingga 20 juta ton. Tambahan kuota ini datang setelah emiten milik Low Tuck Kwong itu menyatakan force majeure, di tengah manuver Haji Isam mengakuisisi 30% atau sebanyak 10 miliar saham BYAN. 

Merujuk pemberitaan Stockbit Sekuritas yang mengutup Reuters, Direktur Jenderal Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan pemerintah memberikan tambahan kuota produksi batu bara sekitar 15–20 juta ton kepada Bayan Resources. Tri mengatakan persetujuan atas tambahan kuota produksi tersebut telah diterbitkan pada Senin (21/9).

“(Intinya) RKAB itu kan sudah diajukan dari awal, (sampai saat ini) terus berproses,” ujarnya.

Seminggu sebelumnya, produksi batu bara BYAN sempat terganjal persetujuan pemerintah. Kementerian ESDM tak kunjung menerbitkan persetujuan tambahan RKAB 2026 untuk tiga anak usaha BYAN. Kondisi itu membuat anak usaha BYAN tidak dapat menjalankan kegiatan produksi secara sah hingga BYAN mengumumkan force majeure.

Usai Haji Isam berhasil mengambil 30% saham tambang batu bara Low Tuck Kwong itu, Kementerian ESDM menerbitkan RKAB milik Bayan Resources. 

Moody’s Ratings pun langsung memangkas prospek BYAN menjadi negatif dari sebelumnya stabil. Namun lembaga rating itu masih mempertahankan peringkat korporasi atau corporate family rating (CFR) PT Bayan Resources Tbk (BYAN) di level Ba1. 

Asisten Wakil Presiden Moody’s Ratings, Anthony Prayugo mengatakan perubahan prospek emiten tambang batu bara itu mencerminkan ketidakpastian regulasi terkait alokasi kuota produksi batu bara.

Menurut Anthony, ketidakpastian tersebut berpotensi membatasi produksi dan menekan laba Bayan apabila tidak segera terselesaikan. Meski tertekan, Anthony menilai metrik kredit Bayan masih kuat. Neraca keuangan perseroan yang bebas utang menjadi salah satu penopang utama kondisi kredit BYAN.  

“Namun ketidakpastian yang terus berlanjut seputar persetujuan kuota RKAB menimbulkan risiko penurunan terhadap kemampuannya untuk mencapai pertumbuhan produksi,” tambah Prayugo, dalam pengumuman Moody’s, Jumat (18/9).

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...