Harga Minyak Capai US$ 102 per Barel saat Ketegangan AS-Iran Kembali Memanas

Mela Syaharani
24 September 2026, 09:16
Kapal-kapal tampak berada di Selat Hormuz, sepert terlihat dari Musandam, Oman, 1 Juni 2026.
REUTERS
Kapal-kapal tampak berada di Selat Hormuz, sepert terlihat dari Musandam, Oman, 1 Juni 2026.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Harga minyak acuan dunia kembali melampaui US$ 100 per barel. Hal ini terjadi saat kembali meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pesan tegas yang menyoroti masih lebarnya kesenjangan antara kedua pihak.

Harga Brent dipatok US$ 102,62 per barel pada pukul 08.17 waktu Singapura. Sementara itu harga West Texas Intermediate (WTI) US$91,79 per barel.

Dalam acara Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Pezeshkian mengatakan Teheran tidak akan menanggapi ancaman dan menyampaikan sejumlah syarat sebelum negosiasi dapat kembali dilanjutkan.

“Optimisme terhadap solusi diplomatik yang cepat untuk mengakhiri perang dan gangguan energi terkait tampaknya telah sangat berkurang,” kata ahli strategi energi di Macquarie Group Walt Chancellor, dikutip dari Bloomberg, Kamis (24/9). 

Dia menyebut meski pasar tidak akan mengabaikan peluang yang mungkin terbuka, ekspektasi berakhirnya perang kemungkinan menjadi lebih rendah.

Di pasar produk minyak, diesel AS menjadi perhatian karena muncul spekulasi bahwa Gedung Putih sedang mempertimbangkan pembatasan ekspor. Namun, Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan pemerintahan Trump sedang bekerja sama dengan perusahaan kilang untuk mengurangi pengiriman mereka sebagai alternatif dari larangan langsung ekspor bahan bakar tersebut.

Harga minyak mentah telah melonjak tahun ini karena konflik di Timur Tengah, serta dampak lanjutan dari perang Rusia-Ukraina. Kondisi tersebut memangkas pasokan dan merusak infrastruktur. 

Kenaikan harga energi secara luas telah mendorong inflasi global, menambah tekanan terhadap konsumen sekaligus meningkatkan tantangan inflasi yang dihadapi bank-bank sentral.

Produk minyak, termasuk diesel, mengalami kenaikan harga yang bahkan lebih tajam dibandingkan minyak mentah. Harga ritel diesel AS untuk sektor transportasi, konstruksi, dan pertanian melonjak ke level rekor. 

Hal tersebut mendorong sejumlah anggota parlemen AS untuk menyerukan pembatasan ekspor. Pada awal pekan ini, Presiden Donald Trump mengatakan dirinya telah mendorong para penasihatnya untuk mendukung larangan ekspor bahan bakar.

Di Timur Tengah, para pelaku pasar menunggu informasi lebih lanjut dari Arab Saudi mengenai rencana untuk kembali memulai ekspor minyak melalui pipa East-West yang sangat penting bagi negara tersebut. Jalur pipa lintas negara itu rusak akibat serangan pada awal bulan ini. 

Pipa tersebut menghubungkan wilayah Arab Saudi dengan pesisir Laut Merah dan menjadi jalur alternatif penting untuk mengirim kargo minyak tanpa melalui Selat Hormuz di tengah ancaman berkelanjutan terhadap pelayaran selama perang.

Di Selat Hormuz, jalur yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar global, serangan terhadap kapal masih terus terjadi. Sebuah kapal kargo terpaksa hanyut dan terbakar setelah terkena proyektil.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan kepada Fox News bahwa 17 juta barel minyak “terkadang” melintas melalui Selat Hormuz setiap hari. Namun, sejumlah pengamat pasar lainnya menyebut angka yang lebih rendah. Clarksons Research memperkirakan volume harian tersebut sekitar 8 juta barel pada awal bulan ini

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...