Harga Minyak Turun di Tengah Peningkatan Volume Ekspor Arab Saudi

Mela Syaharani
30 September 2026, 09:28
Harga Minyak Turun
ANTARA
Harga Minyak Turun
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Harga minyak acuan dunia turun seiring dengan peningkatan volume ekspor pasokan  Timur Tengah yang mendekati level sebelum perang. Hal ini terjadi karena Arab Saudi kembali mengalirkan pasokan minyak ke pasar global melalui jaringan pipa East-West dekat Laut Merah.

Harga Brent turun menjadi US$ 103,11 per barel pada pukul 08.20 waktu Singapura. Sementara harga minyak West Texas Intermediate turun 0,2% menjadi US$ 89,25 per barel.

Analis JPMorgan Natasha Kaneva mengatakan rata-rata ekspor minyak mentah dari Timur Tengah selama 10 hari telah pulih menjadi 17,5 juta barel per hari, atau 98% dari level sebelum perang. Bloomberg mencatat, pipa East-West kini telah mengalirkan pasokan minyak sebanyak 3,5 juta barel per hari atau setengah dari kapasitas penuhnya.

Aliran minyak mentah yang stabil juga tampaknya terus keluar dari Teluk Persia melalui Hormuz menggunakan kapal-kapal yang melintas secara diam-diam, meskipun risiko terhadap pelayaran masih berlangsung. Kondisi ini membantu meredakan kekhawatiran kesepakatan untuk membuka kembali jalur perairan tersebut masih sulit dicapai.

Harga minyak juga mengalami pergerakan tajam akibat prospek pembatasan ekspor diesel oleh AS, ketika pemerintahan Trump berupaya menekan harga domestik yang telah mencapai rekor. Para pejabat Eropa semakin optimistis Washington akan menunda pelarangan tersebut, sebab jika diberlakukan dapat semakin memperketat pasokan bahan bakar global.

“Lonjakan harga minyak mulai mereda saat ini karena ditopang oleh beberapa alasan. Mulai dari meningkatnya aliran ekspor melalui Hormuz, tidak adanya eskalasi lanjutan oleh Iran, serta penundaan terhadap potensi pembatasan diesel oleh AS,” kata analis energi senior di MST Marquee, Saul Kavonic, dikutip dari Bloomberg, Rabu (30/9).

Kendati demikian, dia menyebut  faktor volatilitas geopolitik, risiko kembali memanasnya ketegangan di sekitar selat tersebut sebelum pemilu paruh waktu AS, serta keterbatasan logistik akan membuat harga tetap tinggi.

Di samping itu, harga bahan bakar juga melonjak karena kapasitas kilang global terganggu dan Rusia memperpanjang pembatasan ekspor.  Pasokan produk seperti diesel dan bensin dari Timur Tengah juga masih terbatas, hanya sekitar 3 juta barel per hari, atau 58% dari level sebelum perang, menurut JPMorgan.

Sementara itu, AS akan mengambil lebih banyak minyak dari cadangan darurat, yang memberikan tambahan pasokan. Pelepasan hingga 40 juta barel tersebut akan menjadi bagian terakhir dari kontribusi AS sebesar 172 juta barel dalam penarikan cadangan global secara terkoordinasi sejak perang dimulai.

Di sisi lain, sejumlah anggota utama OPEC+ kemungkinan akan tetap menjalankan rencana untuk mempertahankan kuota produksi minyak mentah pada bulan depan. Kelompok yang dipimpin Arab Saudi dan Rusia tersebut kemungkinan akan mengesahkan kembali peta jalan yang ada untuk mempertahankan target produksi tetap sama pada November.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...