Harga Minyak Turun Tipis di Tengah Kekhawatiran Meluasnya Perang Timur Tengah
Harga minyak acuan dunia turun tipis setelah mencatat kenaikan selama tiga hari berturut-turut. Penurunan ini terjadi di tengah kekhawatiran meluasnya perang di Timur Tengah dapat menghambat pemulihan pasokan energi dari kawasan tersebut.
Harga Brent turun 0,9% menjadi US$ 105,68 per barel pada pukul 08.28 Waktu Singapura. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate turun 0,9% menjadi US$ 92,87 per barel.
Harga solar turun untuk hari ketiga di New York, AS, setelah Rusia setuju untuk melepas lebih banyak pasokan menyusul permintaan Presiden AS Donald Trump.
Harga minyak telah naik lebih dari 70% sepanjang tahun ini seiring perang AS terhadap Iran mengguncang pasar energi. Kondisi tersebut diperparah oleh serangan terhadap Arab Saudi yang terjadi tidak lama setelah pasukan pimpinan Riyadh di Yaman melancarkan operasi untuk merebut kembali wilayah yang dikuasai kelompok Houthi.
Sementara itu, serangan terhadap kapal tanker di Selat Hormuz yang strategis semakin meningkat. Kondisi tersebut menyebabkan semakin banyak kapal tanker super berbalik arah menjauhi Teluk Persia dalam beberapa hari terakhir.
Spesialis energi di TP ICAP Group, Scott Shelton mengatakan, beberapa hari terakhir ini pasar dihadapkan dengan rentetan berita yang membingungkan. Hal itu merujuk pada berbagai persoalan, termasuk klaim Trump mengenai gencatan senjata energi Rusia-Ukraina serta serangan Houthi terhadap Arab Saudi.
“Awal pekan ini berlangsung kacau,” katanya, dikutip dari Bloomberg, Selasa (13/10).
Serangan Houthi terhadap bandara utama Riyadh selama akhir pekan menewaskan sedikitnya 16 orang, termasuk seorang warga negara AS, dan melukai sekitar 300 orang lainnya. Trump mengatakan akan mempertimbangkan untuk bergabung dalam serangan yang didukung Arab Saudi terhadap kelompok yang berbasis di Yaman dan didukung Iran itu.
Rentetan serangan drone dan rudal Houthi terhadap bandara utama Saudi telah meningkatkan tekanan terhadap Washington untuk meningkatkan upayanya dalam konflik di Yaman.
Sementara itu, Trump mengatakan telah terjadi pelanggaran terhadap gencatan senjata energi antara Kiev dan Moskow yang sebelumnya dia umumkan. Presiden Volodymyr Zelensky mengatakan, Ukraina akan melanjutkan serangan terhadap Rusia karena infrastruktur energi negaranya masih menjadi sasaran serangan Moskow.
Sementara itu, Arab Saudi berupaya memperkuat kemampuannya untuk mengirimkan minyak tanpa harus melewati Selat Hormuz. “Saudi Aramco dapat menambah kapasitas ekspor sebesar 1,2 juta barel per hari dalam waktu tujuh hingga delapan minggu dengan mengalihfungsikan jaringan pipa gas yang sudah ada,” kata Menteri Energi Saudi, Pangeran Abdulaziz bin Salman, dalam sebuah konferensi di Riyadh pada Senin.
Riyadh juga berencana memperluas kapasitas pipa yang menghindari Selat Hormuz sebesar 40% menjadi 10 juta barel per hari dalam waktu dua hingga tiga tahun. Upaya tersebut dilakukan meski arus pengiriman minyak dari Timur Tengah telah pulih tajam dalam beberapa pekan terakhir. Sejumlah bank Wall Street menyatakan pengiriman minyak mentah dari kawasan tersebut telah kembali mendekati tingkat sebelum perang.
Kepala investasi di Karobaar Capital LP, Haris Khurshid mengatakan, pemulihan tersebut menekan harga minyak, tetapi juga membuat pasar rentan terhadap gangguan pasokan besar lainnya.
“Hanya karena sistem telah menemukan cara untuk menjaga agar minyak tetap mengalir, bukan berarti sistem tersebut mampu menghadapi gangguan besar lainnya. Itulah risiko yang mungkin diremehkan oleh pasar,” ujarnya.
