Harga Batu Bara Cina Tembus Level Tertinggi dalam Tiga Tahun Imbas Kebijakan RI

Mela Syaharani
13 Oktober 2026, 14:35
Kapal tongkang pengangkut batu bara melintas di Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan, Senin (21/9/2026). Kementerian ESDM menetapkan harga batu bara acuan (HBA) periode kedua September 2026 untuk batubara berkalori tinggi 6.322 kcal/kg GAR sebesar 123
ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/nym.
Kapal tongkang pengangkut batu bara melintas di Sungai Musi, Palembang, Sumatera Selatan, Senin (21/9/2026). Kementerian ESDM menetapkan harga batu bara acuan (HBA) periode kedua September 2026 untuk batubara berkalori tinggi 6.322 kcal/kg GAR sebesar 123,54 dolar AS per ton yaitu turun dari periode pertama September 2026 di level 126,87 dolar AS per ton, sedangkan untuk batu bara nilai kalori 3.400 kcal/kg GAR naik dari 44,15 dolar AS per ton pada periode pertama, naik menjadi 44,53 dolar AS per ton pada p
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Harga batu bara termal Cina naik ke level tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Kenaikan ini terjadi di tengah lambatnya pertumbuhan produksi domestik dan gangguan pasokan dari Indonesia yang merupakan eksportir utama batu bara mereka.

Kondisi tersebut juga berlangsung bersamaan dengan reli harga energi yang dipicu oleh perang Amerika Serikat (AS)-Iran. Asosiasi Transportasi dan Distribusi Batu Bara Cina menyebut harga acuan batu bara untuk pembangkit listrik mencapai 1.004 yuan (US$ 150) per ton pada Senin. Ini merupakan kali pertama harga tersebut menembus angka 1.000 yuan dalam dua tahun terakhir. 

Bloomberg mencatat, batu bara masih menjadi bahan bakar utama pembangkit listrik Cina, dengan kontribusi sekitar setengah dari bauran listrik negara tersebut. Meskipun pembangunan energi terbarukan meningkat pesat di Cina dalam beberapa tahun terakhir. 

Produksi domestik bahan bakar fosil ini turun lebih dari 3% pada periode Januari-Agustus dibandingkan periode yang sama pada 2025. Penurunan ini terjadi akibat peningkatan langkah-langkah keselamatan setelah insiden tambang runtuh yang menewaskan sejumlah orang di Provinsi Shanxi pada Mei.

Cina sebelumnya mengandalkan Shanxi untuk memulihkan produksi hingga mencapai sekitar 31 juta ton per tahun pada akhir tahun. Namun ternyata persetujuan atas permohonan pembukaan kembali tambang berjalan lebih lambat dari perkiraan. Otoritas terkait akan berhati-hati dalam mengeluarkan persetujuan menjelang pertemuan besar Partai Komunis pada akhir bulan ini.

Tak hanya soal perizinan, produksi batu bara disana juga mengalami hambatan pemeliharaan selama tiga pekan di jalur kereta api utama pengangkut batu bara Cina hingga 26 Oktober. Hal ini diperkirakan akan membuat harga tetap tinggi.

Masalah batu bara tak hanya disumbang dari faktor domestik, namun juga diperparah oleh kondisi luar negeri. Pemasok utama batu bara termal Cina yakni Indonesia juga menurunkan angka pengiriman batu bara ke negeri panda. Penurunan terjadi setelah pemerintah mengambil langkah untuk membatasi produksi guna memulihkan harga dan meningkatkan penerimaan negara. 

Belakangan ini, kekeringan yang berkaitan dengan pola cuaca El Niño juga menurunkan permukaan air sungai di sejumlah wilayah penghasil batu bara utama di Indonesia. Kondisi tersebut memaksa operator tongkang mengurangi muatan yang diangkut.

Di samping itu, konsumsi batu bara Cina biasanya meningkat selama bulan-bulan musim dingin, yang diperkirakan akan mempertahankan tekanan kenaikan harga. Bahan bakar alternatif untuk pembangkit listrik, yakni gas alam cair (liquefied natural gas/LNG), juga mengalami lonjakan harga tahun ini karena perang di Timur Tengah membuat produksi Qatar tertahan di balik Selat Hormuz.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Mela Syaharani

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...