Harga Minyak Naik, Brent Tembus US$ 110 per Barel Imbas Serangan di Arab Saudi

Muhamad Fajar Riyandanu
22 Oktober 2026, 08:58
harga minyak dunia, houthi serang arab saudi,
Zukiman Mohamad/Pexels
Ilustrasi kilang minyak lepas pantai
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Kamis (22/10), seiring meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah. Serangan kelompok Houthi ke sejumlah target di Arab Saudi mendorong Amerika Serikat (AS) memerintahkan sejumlah diplomat dan anggota keluarga mereka meninggalkan misi diplomatik di negara tersebut.

Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent untuk kontrak berjangka naik US$ 1,29 atau 1,2% menjadi US$ 110,11 per barel pada pukul 00.34 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat 97 sen atau 1% menjadi US$ 98,12 per barel.

Kenaikan harga minyak terjadi setelah kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran melancarkan serangan ke sejumlah target di Arab Saudi pada Rabu (21/10). Serangan tersebut menewaskan sedikitnya satu orang dan melukai delapan orang lainnya di sebuah bandara sipil di Dammam. Serangan pesawat nirawak terhadap ladang minyak di Arab Saudi juga menewaskan dua orang.

Eskalasi konflik tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap kelancaran distribusi minyak dari kawasan Teluk. Data perusahaan pelacak kapal Kpler menunjukkan sedikitnya 18 serangan terhadap kapal terjadi selama dua pekan terakhir.

Analis LSEG juga memperingatkan bahwa Iran menargetkan kapal tanker hingga ke Teluk Oman, di luar Selat Hormuz. Situasi tersebut berpotensi mengganggu pemuatan minyak mentah dari kawasan Teluk serta kegiatan pemindahan minyak antarkapal yang mendukung distribusi minyak regional.

Selain faktor geopolitik, penurunan persediaan minyak mentah AS turut menopang harga minyak dunia. Administrasi Informasi Energi AS (EIA) melaporkan persediaan minyak mentah negara tersebut turun 3,06 juta barel menjadi 412,5 juta barel pada pekan lalu.

Penurunan tersebut lebih besar dibandingkan perkiraan analis dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan persediaan minyak mentah AS hanya berkurang 820 ribu barel.

Namun, kenaikan persediaan produk distilat, termasuk diesel dan minyak pemanas, menahan sebagian tekanan terhadap pasokan produk energi. EIA mencatat persediaan distilat AS naik 1,68 juta barel menjadi 104,3 juta barel, berlawanan dengan perkiraan analis yang memproyeksikan penurunan 1,16 juta barel.

Pemerintah AS juga berupaya meredam kenaikan harga minyak pemanas dengan menawarkan pinjaman sebagian cadangan darurat minyak pemanas nasional. Departemen Energi AS menyatakan kebijakan tersebut bertujuan membantu mengatasi lonjakan harga energi di tengah gangguan pasokan akibat konflik Iran dan Ukraina.

Pelaku pasar kini mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah, keamanan jalur pelayaran, serta perubahan persediaan minyak AS untuk memperkirakan arah harga minyak dunia selanjutnya.

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Muhamad Fajar Riyandanu

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...