Harga Minyak Brent Melonjak akibat Konflik Saudi Vs Houthi
Harga minyak dunia bergerak relatif stabil pada perdagangan awal Asia, Jumat (23/10). Sebelumnya, harga komoditas itu melonjak 4% ke level tertinggi dalam lima bulan pada perdagangan sebelumnya.
Harga minyak mentah Brent untuk kontrak berjangka turun 21 sen atau 0,2% menjadi US$ 112,96 per barel pada pukul 00.30 GMT. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat melemah 27 sen atau 0,3% menjadi US$ 98,12 per barel.
Harga kedua produk minyak itu naik dari hari sebelumnya. Kemarin, harga minyak mentah Brent untuk kontrak berjangka berada di US$ 110,11 per barel pada pukul 00.34 GMT. Sementara itu, WTI di level US$ 98,12 per barel.
Pelaku pasar mencermati risiko gangguan pasokan energi setelah kelompok Houthi menyerang Arab Saudi, eksportir minyak terbesar dunia. Kekhawatiran tersebut mendorong harga minyak Brent melonjak 4% pada perdagangan Kamis (22/10).
Secara mingguan, harga minyak WTI berpotensi mengakhiri tren kenaikan selama dua pekan berturut-turut dan mencatat penurunan. Sebaliknya, harga Brent berpeluang mencatat kenaikan selama tiga pekan berturut-turut setelah ditutup pada level tertinggi sejak 4 Mei pada perdagangan Kamis (22/10).
Reuters melaporkan Saudi Aramco memerintahkan evakuasi kantor pusatnya di Dhahran, kawasan Teluk yang berdekatan dengan Bahrain, pada Kamis (22/10). Perusahaan minyak nasional Arab Saudi tersebut mengambil langkah itu seiring meningkatnya pertempuran antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang berbasis di Yaman.
Pertempuran antara kelompok Houthi dan koalisi pimpinan Arab Saudi yang mendukung pemerintah Yaman yang diakui secara internasional terus berlangsung. Konflik meningkat setelah kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran bergerak menuju Bab el-Mandeb, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.
Di Libya, penutupan katup pipa minyak yang menghubungkan ladang minyak Hamada dan Tahara dengan Pelabuhan Zawiya menyebabkan penurunan produksi dari kedua ladang tersebut. Kepala National Oil Corporation Libya menyampaikan informasi tersebut kepada Reuters pada Kamis (22/10).
Di sisi lain, Rusia menyatakan kesiapan untuk melanjutkan perundingan dengan Ukraina yang dimediasi Amerika Serikat pada November mendatang. Pernyataan tersebut muncul setelah Presiden Rusia Vladimir Putin bertemu dengan utusan Amerika Serikat Steve Witkoff di St. Petersburg.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky berharap kedua negara dapat melanjutkan perundingan pada awal November. Perundingan tersebut akan menjadi pertemuan pertama sejak Februari.
Data energi Amerika Serikat menunjukkan Rusia menempati posisi sebagai produsen minyak mentah terbesar ketiga di dunia pada 2025, setelah AS dan Arab Saudi. Sanksi yang bertujuan membatasi peredaran energi Rusia di pasar global setelah invasi Rusia ke Ukraina pada 2022 turut mendorong kenaikan harga minyak dunia.
