Singapura Sebut Dampak Pemangkasan Pasokan Gas dari RI Kurang dari 2% Kebutuhan

Ira Guslina Sufa
25 Oktober 2026, 10:42
Gas
ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/foc.
Pekerja Pertamina Hulu Rokan (PHR) Zona 4 regional 1 Sumatera memeriksa pipa gas di LPG plant limau timur di Desa Kemang Tanduk, Prabumulih, Sumatera Selatan, Selasa (7/10/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Otoritas Pasar Energi Singapura atau Energy Market Authority (EMA) memperkirakan pengurangan pasokan gas dari Indonesia tidak berdampak signifikan terhadap kebutuhan energi. Hal itu merespons keputusan pemerintah Indonesia memangkas ekspor gas dari Natuna dan Sumatra untuk mengoptimalkan pasokan domestik.

Merujuk pemberitaan The Straits Times, EMA menyatakan pengurangan pasokan gas alam dari Indonesia hanya mencakup kurang dari 2% dari total kebutuhan gas harian negara tersebut. Singapura juga mengklaim memiliki pasokan energi alternatif untuk mengantisipasi gangguan pasokan.

Juru bicara EMA mengatakan, berdasarkan informasi dari importir gas alam di Singapura, pengurangan pasokan tidak terlalu signifikan bila dibanding kebutuhan gas alam harian Singapura mencapai lebih dari 1.000 miliar British thermal unit per hari (BBTUD). Dengan demikian, pengurangan pasokan tersebut relatif kecil dibandingkan kebutuhan energi negara itu.

“EMA memahami bahwa para importir akan menempuh langkah-langkah yang relevan berdasarkan kontrak pasokan gas mereka untuk mengatasi gangguan pasokan tersebut,” kata juru bicara EMA, seperti dikutip dari The Straits Times, Minggu (25/10).

Pernyataan tersebut disampaikan setelah Indonesia mengumumkan pemangkasan ekspor gas ke Singapura mulai Sabtu (24/10). Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Djoko Siswanto mengatakan, pemerintah memangkas ekspor gas ke Singapura sebesar 31 BBTUD mulai Sabtu (24/10).

Pengurangan tersebut berasal dari dua sumber pasokan, yakni Natuna sebesar 15 BBTUD dan Sumatra sebesar 16 BBTUD. Gas dari kedua wilayah itu dialihkan untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik di Batam, Bintan, dan Sumatra.

Djoko mengatakan, gas dari Natuna dialihkan kepada PT PLN Batam melalui jaringan pipa WNTS–Pulau Pemping–Batam. Sementara itu, pasokan dari Sumatra dialihkan untuk kebutuhan listrik di Batam, Bintan, dan Sumatra melalui jaringan pipa milik PT Transportasi Gas Indonesia.

“Dalam rangka menjaga keandalan pasokan gas dalam negeri untuk kelistrikan, mulai hari ini pasokan gas ke Singapura dialihkan ke dalam negeri,” kata Djoko.

Menanggapi pemangkasan, EMA menyatakan Singapura telah menyiapkan rencana kontingensi untuk menghadapi pengurangan pasokan gas. Dalam beberapa bulan terakhir, Singapura juga mengalami penurunan pasokan sebesar 20-100 BBTUD akibat pemeliharaan terencana maupun mendesak. 

Singapura Andalkan Impor LNG

Menurut EMA, kekurangan tersebut dapat digantikan dengan sumber gas lain tanpa menimbulkan gangguan. Gas alam menyumbang sekitar 95% dari bauran pembangkitan listrik Singapura. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Singapura mengandalkan pasokan gas melalui pipa dari Indonesia dan Malaysia, serta gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) yang diimpor dari berbagai negara.

EMA menyatakan perusahaan yang bertindak sebagai pengadaan dan pemasok utama gas alam Singapura, Singapore GasCo, siap meningkatkan impor apabila diperlukan. Perusahaan pembangkit listrik di negara itu juga diwajibkan memiliki cadangan bahan bakar yang memadai, termasuk diesel.

Meski demikian, penggantian gas pipa dengan LNG berpotensi meningkatkan biaya pengadaan dan paparan terhadap volatilitas harga di pasar global. Kepala eksekutif Solar Energy Research Institute of Singapore, Subodh Mhaisalkar, menilai infrastruktur LNG menjadi salah satu pengaman utama bagi ketahanan energi Singapura karena memungkinkan negara tersebut memperoleh pasokan dari berbagai pemasok internasional.

Menurut Mhaisalkar, pengurangan pasokan gas dari Indonesia relatif kecil dibandingkan kebutuhan energi harian Singapura. Karena itu, ia menyebut dampaknya terhadap biaya secara keseluruhan diperkirakan tidak signifikan.

Adapun pemerintah Indonesia sebelumnya menyatakan pemangkasan ekspor gas ke Singapura merupakan bagian dari rencana pemerintah Indonesia meningkatkan pemanfaatan gas untuk kebutuhan dalam negeri, termasuk mendukung pengembangan industri hilirisasi petrokimia. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral sekaligus Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia sebelumnya menyatakan pemerintah dapat mengevaluasi ekspor energi ke negara-negara yang dinilai tidak menunjukkan sikap saling menghormati.

Indonesia juga telah merencanakan pengurangan ekspor gas ke Singapura selama beberapa tahun untuk mengakomodasi pertumbuhan kebutuhan domestik. Pada 2022, kedua negara menyepakati perpanjangan pasokan gas hingga 2028, dengan volume yang lebih rendah dibandingkan kontrak sebelumnya. 

Adapun pemangkasan terbaru melibatkan pasokan dari Natuna dan Sumatra sekaligus. Gas dari Sumatra disalurkan kepada importir Gas Supply, sedangkan gas dari Natuna dikirim melalui pipa bawah laut menuju fasilitas penerimaan yang dioperasikan Sembcorp Gas. Perjanjian pasokan gas dari kedua wilayah tersebut diperkirakan berlaku hingga 2028.

 

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Antara

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...