Panas Dingin Indonesia - Singapura, Bagaimana Posisi Ketahanan Energinya?

Hari Widowati
27 Oktober 2026, 14:59
Indonesia, Singapura, ketahanan energi
Youtube Sekretariat Presiden
Ilustrasi terminal LNG. Kebijakan Indonesia menyetop sementara ekspor LNG ke Singapura memicu polemik.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Keputusan pemerintah Indonesia untuk menyetop sementara ekspor gas alam ke Singapura sejak 24 Oktober 2026 memicu polemik. Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong merespons keras dengan mengingatkan seluruh pihak untuk memenuhi komitmen kontrak komersial pasokan gas yang telah disepakati.

Pemangkasan pasokan ini mencapai 31 juta kaki kubik standar per hari (MMscfd), yang terdiri atas 15 MMscfd dari Natuna dan 16 MMscfd dari Sumatra. Gas ini akan dialihkan untuk kebutuhan listrik domestik di Batam, Bintan, dan Sumatra. 

Di tengah memanasnya hubungan kedua negara, bagaimana sebenarnya kondisi ketahanan energi Indonesia dan Singapura? Berikut ini penjelasannya.

Katadata menggunakan basis data 2024 yang tersedia dari kedua negara. Menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pada 2024 bauran energi primer Indonesia didominasi oleh batu bara dengan porsi 40,37% disusul minyak bumi sebesar 28,82%. Bauran energi primer dari gas alam mencapai 16,17% sedangkan energi baru terbarukan (EBT) sebesar 14,65%. 

Sementara itu, data Pemerintah Singapura menunjukkan bauran energi primer negara tersebut didominasi oleh gas alam sebesar 94%. Penggunaan energi yang dihasilkan oleh limbah, biomassa, dan impor energi lainnya mencapai 2,7%, energi Surya 2,1%, sedangkan penggunaan batu bara dan produk minyak sebesar 1,2%.

Berdasarkan data tersebut, Indonesia memiliki bauran energi yang lebih beragam karena menghasilkan batu bara, minyak, dan gas di dalam negeri. Namun, produksi domestik itu tidak otomatis mampu memenuhi kebutuhan seluruh jenis energi, terutama produk bahan bakar minyak (BBM) yang mayoritas masih diimpor. 

Di sisi lain, Singapura memiliki ketergantungan impor yang sangat besar untuk gas alam. Namun, bukan berarti seluruh energi yang dikonsumsi untuk sektor transportasi, industri, dan kegiatan ekonomi lainnya berasal dari gas. 

Bauran Energi Listrik: Batu Bara vs Gas Alam

Bagaimana dengan perbandingan bauran energi pembangkit listrik di Indonesia vs Singapura?

Menurut data Kementerian ESDM, Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang menggunakan bahan bakar batu bara mendominasi system kelistrikan di Indonesia. Pada 2024, Indonesia memproduksi listrik 371,6 TWh (Terawatt hour). Dari angka tersebut, kontribusi dari pembangkit listrik energi terbarukan hanya 18,1%.

Kementerian Energi, Industri, dan Perdagangan Singapura menyebutkan 95% listrik negara tersebut dihasilkan dari gas alam impor. Infrastruktur gas alam cair (LNG) yang sangat baik memungkinkan Singapura membeli gas dari berbagai negara di dunia. 

Singapura memiliki dua jalur pasokan utama untuk gas alam, yakni gas melalui pipa dan gas alam cair (LNG) yang didatangkan dengan kapal. Pasokan gas pipa Singapura berasal dari Indonesia dan Malaysia. Gas dikirim melalui jaringan pipa lintas batas, termasuk dari wilayah produksi Natuna dan Sumatra, serta Semenanjung Malaysia. Volume pasokan gas pipa bisa berubah-ubah, tergantung kontrak.

Untuk pasokan LNG dari pasar internasional, Singapura mengimpornya melalui terminal Singapore LNG (SLNG) yang memiliki kapasitas sekitar 11 juta ton per tahun. Pada 2025, Qatar menjadi pemasok LNG terbesar bagi Singapura dengan volume 2,85 juta ton dan nilai ekspor US$ 1,26 miliar. 

Negara Pemasok LNG Singapura

Negara Pemasok LNG Singapura (Bank Dunia diolah Katadata/Hari Widowati/Copilot)

Siapa Lebih Tahan terhadap Krisis Energi?

Berdasarkan informasi di atas, Indonesia memiliki sumber energi domestic yang cukup beragam dari batu bara, gas, minyak, panas bumi, dan energi terbarukan seperti angin dan surya. Adapun Singapura memiliki keterbatasan sumber daya energi domestik sehingga memiliki ketergantungan tinggi pada impor gas alam. 

Jika terjadi gangguan terhadap Harga komoditas energi global, posisi Singapura lebih rentan dibandingkan dengan Indonesia yang memiliki sumber energi domestik. Meski demikian, Indonesia tetap terdampak kenaikan Harga energi global karena masih mengimpor minyak mentah dan BBM. 

Di sisi infrastruktur pasokan, Singapura memiliki terminal LNG, jaringan gas, dan fasilitas penyimpanan dan perdagangan energi yang mumpuni. Sementara itu, Indonesia memiliki tambang, kilang, jaringan pipa gas, Pelabuhan, dan infrastruktur energi antarpulau. 

Dari sisi potensi energi terbarukan, Indonesia memiliki potensi besar dari panas bumi, hidro, surya, angin, dan bioenergi. Di sisi lain, Singapura memiliki keterbatasan luas lahan, sehingga saat ini mereka memfokuskan pada sumber energi surya dan impor listrik rendah karbon. 

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...