Punya Infrastruktur Lengkap, Ini Alasan Singapura Jadi Hub Energi di ASEAN

Hari Widowati
27 Oktober 2026, 18:02
Singapura, hub energi, Asia Tenggara, impor BBM
ANTARA
Singapura menjadi hub energi di kawasan Asia Tenggara.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Pemerintah Indonesia memutuskan untuk menyetop sementara ekspor gas ke Singapura sejak 24 Oktober 2026. Gas itu akan dialihkan untuk memenuhi kebutuhan domestik di Batam, Bintan, dan Sumatra. 

Di tengah konflik ini, Indonesia masih mengimpor sebagian besar bahan bakar minyak (BBM) dari Singapura. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Indonesia mengimpor hasil minyak dari Singapura sebesar 37,75 juta ton pada 2025. Data lain dari Badan Energi Internasional (IEA) menunjukkan Singapura menyumbang sekitar 38% impor produk minyak Indonesia pada 2024.    

Mengapa Singapura menjadi simpul penting dalam rantai pasok energi di Asia Tenggara, termasuk Indonesia? 

Singapura merupakan pusat perdagangan, pembentukan harga, penyimpanan, pengolahan, dan distribusi komoditas energi di Asia Tenggara. Meskipun tidak memiliki cadangan minyak dan gas, Singapura mampu mempertemukan produsen energi global, perusahaan perdagangan, kilang, perbankan, perusahaan pelayaran, dan konsumen dari berbagai negara dalam satu ekosistem. 

Pemain besar seperti Vitol, Trafigura, Shell, BP, dan perusahaan internasional lainnya membeli dan menjual minyak mentah, bensin, solar, avtur, serta bahan bakar kapal melalui jaringan perdagangan yang ada di Singapura. 

Data dari Kementerian Perdagangan dan Industri Singapura menyebut nilai perdagangan energi yang dilakukan melalui negara tersebut meningkat dari US$1,44 triliun pada 2023 menjadi US$1,67 triliun pada 2024. Menurut data S&P Global, kilang-kilang minyak di Singapura mampu mengolah minyak mentah dengan kapasitas 1,29 juta barel per hari pada 2025.

Tiga Operator Utama Kilang Singapura

Di Singapura terdapat tiga operator utama kilang minyak, yakni ExxonMobil, Aster Chemicals and Energy, serta Singapore Refining Company (SRC). 

ExxonMobil mengoperasikan kompleks kilang yang terintegrasi dengan pabrik petrokimia dengan kapasitas 592 ribu barel per hari. Produk yang dihasilkannya mencakup bensin, solar, avtur, LPG, bahan baku petrokimia, dan bahan dasar pelumas. 

Aster Chemicals and Energy mengoperasikan kilang yang dahulu dimiliki oleh Shell di Pulau Bukom, kapasitasnya mencapai 300 ribu barel per hari. Kilang ini memproduksi minyak olahan dan petrokimia. Aster dimiliki oleh perusahaan patungan (joint venture) antara Chandra Asri dan Glencore.

Sementara itu, SRC mengoperasikan kilang dengan kapasitas 290 ribu barel per hari. Produksinya mencakup LPG, bensin, avtur, solar, bahan bakar minyak berat, dan aspal. SRC dimiliki oleh Chevron dan Singapore Petroleum Company. 

Hasil produksi dari kilang-kilang di Singapura digunakan untuk konsumsi domestik maupun diekspor ke negara lain. Data UN Comtrade pada 2023 menunjukkan Indonesia menjadi negara pembeli terbesar produk minyak olahan asal Singapura, yakni sebesar 12,23 juta ton. Negara lain yang banyak mengimpor produk minyak olahan Singapura adalah Australia sebesar 11,74 juta ton, Malaysia 11,69 juta ton, Myanmar 4,81 juta ton, dan Selandia Baru 3,07 juta ton. 

Mengapa Indonesia Mengimpor Banyak BBM dari Singapura?

Ada beberapa hal yang menyebabkan Indonesia bergantung pada Singapura untuk impor BBM. Berikut ini detailnya

1. Singapura merupakan pusat perdagangan dan distribusi minyak regional. Banyak perusahaan perdagangan minyak, operator kilang, dan perusahaan energi global yang bertransaksi melalui Singapura. Negara tersebut juga memiliki fasilitas penyimpanan, pelabuhan, dan jaringan perdagangan sehingga menjadi titik pasok yang strategis karena lokasinya dekat dengan Indonesia.

2. Kapasitas pengolahan minyak di Indonesia belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan domestik. Menurut US Energy Information Administration (EIA), Indonesia memiliki delapan kilang dengan total kapasitas 1,2 juta barel per hari. Produksi produk minyak olahan Indonesia pada 2024 mencapai 1 juta barel per hari, sedangkan konsumsinya mencapai 1,7 juta barel per hari. 

3. Indonesia bukan hanya bergantung pada minyak mentah tetapi juga produk olahannya. Singapura mengimpor minyak mentah dan bahan baku dari berbagai negara. Selanjutnya, Singapura mengolah, mencampur, menyimpan, dan memperdagangkan produk minyak sesuai kebutuhan pasar. 

add katadata as preferred source
Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...