Harga Minyak Turun US$1 per Barel, Investor Cermati Perundingan Damai AS-Iran
Harga minyak mentah turun sekitar US$1 per barel pada Kamis (29/10). Penurunan ini terjadi seiring munculnya harapan terhadap perundingan damai yang meredakan kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pasokan minyak akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Harapan tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap risiko gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah, meskipun konflik yang terus meningkat masih membayangi prospek pasokan minyak global.
Harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turun 92 sen atau 0,9% menjadi US$101,86 per barel. Harga WTI bahkan sempat menyentuh level US$101,75 per barel.
Sementara itu, harga minyak mentah berjangka Brent turun 82 sen atau 0,7% menjadi US$114,50 per barel pada pukul 01.32 GMT. Harga minyak mentah Brent naik 1,3% dan WTI sebelumnya sempat menguat 3% pada perdagangan Rabu (28/10).
Namun, harga minyak kembali tertekan pada Kamis (29/10) seiring munculnya harapan bahwa perundingan damai antara AS dan Iran dapat berlanjut.
Wakil Presiden AS, JD Vance, berupaya menghidupkan kembali perundingan damai dengan mengirimkan surat kepada Kepala Dewan Keamanan Iran, Mohsen Rezaei, Wall Street Journal melaporkan informasi tersebut pada Rabu dengan mengutip sejumlah pejabat AS dan pihak yang mengetahui persoalan itu.
Ekonom Nomura Securities, Yuki Takashima, mengatakan tekanan jual mendominasi pasar karena investor memperkirakan perundingan damai dapat kembali berlangsung.
“Tekanan jual mendominasi pasar di tengah ekspektasi bahwa perundingan damai mungkin kembali berlangsung,” kata Yuki Takashima. “Namun, penurunannya masih terbatas.” Kata Yuki, sebagaimana diberitakan oleh Reuters pada Kamis (29/10).
Kekhawatiran pasar terhadap meningkatnya serangan kelompok Houthi dan potensi serangan AS terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu AS pada 3 November turut menahan penurunan harga minyak.
Koalisi pimpinan Arab Saudi yang memerangi kelompok Houthi di Yaman menyatakan telah menghancurkan rudal balistik yang ditembakkan kelompok tersebut ke wilayah timur Arab Saudi pada Kamis dini hari. Perkembangan ini menunjukkan bahwa konflik antara kedua pihak belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Sebelumnya, pasukan pemerintah Yaman melaporkan bahwa kelompok Houthi menyerang Bandara Aden pada Rabu. Serangan itu terjadi sehari setelah kelompok tersebut mengklaim telah menghantam kilang minyak terbesar di Arab Saudi menggunakan rudal.
Serangan tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan fasilitas energi Arab Saudi, yang merupakan produsen minyak mentah terbesar kedua di dunia setelah AS. Namun, pemerintah Arab Saudi belum mengonfirmasi secara langsung serangan terhadap kilang berkapasitas 550 ribu barel per hari tersebut.
Di sisi lain, mediator Qatar telah menyampaikan rancangan kesepakatan baru kepada Iran untuk mengakhiri perang dengan AS dan Israel, menurut seorang pejabat yang mengetahui jalannya perundingan. Namun, seorang pejabat senior Iran menolak rancangan tersebut karena memuat gagasan yang tidak dapat diterima dan belum memenuhi syarat sebagai tawaran resmi.
Menteri Luar Negeri Iran pada Rabu menyatakan bahwa pemerintahnya masih memberikan kesempatan bagi jalur diplomasi untuk mencapai kesepakatan. Ia juga membuka kemungkinan untuk menyelesaikan rencana tujuh hari yang diajukan Iran dalam waktu kurang dari sepekan jika rencana tersebut disetujui.
Sementara itu, data persediaan minyak AS menunjukkan penurunan stok minyak mentah. Administrasi Informasi Energi AS (EIA) melaporkan bahwa perusahaan energi mengurangi persediaan minyak mentah sebanyak 1,9 juta barel selama pekan yang berakhir pada 23 Oktober.
Angka tersebut berbanding terbalik dengan perkiraan analis dalam jajak pendapat Reuters, yang memperkirakan persediaan minyak mentah justru bertambah 15 ribu barel.
Namun, persediaan bensin AS meningkat 3,9 juta barel pada periode yang sama. Kenaikan ini berbeda dari perkiraan analis yang memproyeksikan persediaan bensin turun 900 ribu barel.
