Semester I 2017, BTN Salurkan KPR Senilai Rp 39 Triliun
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk telah menyalurkan kredit senilai Rp 39,01 triliun untuk pembiayaan 370.173 unit rumah. Besarnya Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) yang digelontorkan ini merupakan bagian dari komitmen mendukung program sejuta rumah.
Direktur Utama BTN Maryono menjelaskan, dari realisasi penyaluran pembiayaan perumahan tersebut, terdiri atas penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Subsidi untuk 246.062 unit rumah dan pemberian KPR Non-subsidi untuk 124.111 unit rumah.
"Tetapi, dari total 370 ribu unit ini belum semuanya berubah jadi KPR, masih ada pembiayaan (konstruksi). Tapi akan segera diubah, jadi tidak menyulitkan likuiditas BTN sendiri," ujar Maryono saat konferensi pers, di Menara BTN, Jakarta, Senin (24/7).
(Baca juga: Kredit Semester I Tumbuh 19%, Laba BTN Melejit 22%)
Secara keseluruhan, tahun ini BTN menargetkan akan menyalurkan pembiayaan perumahan untuk 666 ribu unit rumah dalam rangka mendukung program satu juta rumah. Target tersebut nantinya terbagi atas penyaluran KPR Subsidi untuk 504.122 unit rumah dan KPR Non-subsidi untuk 161.878 unit rumah.
Maryono mengungkapkan, pada tahun ini, BTN hanya akan memberikan KPR Subsidi dengan skema Subsidi Selisih Bunga (SSB), tidak lagi menggunakan skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP). Alasannya, skema SSB ini dapat membantu pemerintah menekan pengeluarannya akbat skema FLPP yang harus membiayai 90 persen dana pembelian rumah masyarakat.
“Kami melihat pendanaan kami masih cukup untuk mendukung penyaluran KPR Subsidi berskema SSB dengan bunga 5 persen fix hingga 20 tahun dan uang muka 1 persen,” ujar Maryono.
(Baca: Laba BNI Semester I Melonjak 47% Berkat Derasnya Penyaluran Kredit)
Direktur BTN, Imam Nugroho Soeko menjelaskan, ketidakikutsertaan BTN dalam skema subsidi FLPP ini dinilai tidak memberikan dampak yang signifikan ke masyarakat maupun developer. Menurutnya, dampaknya justru terasa di BTN sendiri karena harus bekerja lebih keras untuk mencari pendanaan.
"SSB ini anggaran lebih kecil. Pemerintah hanya menyediakan 6 persen. Jadi pemerintah bisa menghemat ketika ada kemungkinan pelebaran defisit dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN)," ujar Imam.
Dari segi sumber pembiayaan, BTN tengah menggelar transformasi digital untuk meningkatkan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK). Selain itu, perseroan juga terus menerbitkan obligasi, Negotiable Certificate of Deposit (NCD), melakukan sekuritisasi aset, hingga mencari pinjaman ke luar negeri.
(Baca: Kredit Bank Mandiri Tumbuh 11,6%, Rasio Kredit Seret Masih Tinggi)
Untuk mempermudah Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) mengakses KPR, dapat dilakukan melalui penyediaan layanan laku pandai dan layanan keuangan digital.
Sementara dari sisi pasokan rumahnya sendiri, BTN juga memfasilitasi pembiayaan pembebasan lahan, konstruksi perumahan, hingga bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung untuk mencetak pengembang andal
