OJK menyatakan sektor keuangan tetap stabil di tengah tekanan global. Kredit perbankan tumbuh 13,65% secara tahunan, sementara jumlah investor pasar modal mencapai 32,17 juta.
OJK meminta bank-bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) untuk memperketat penerapan manajemen risiko terkait pembiayaan terhadap program prioritas pemerintah.
OJK mengingatkan bank untuk mempertimbangkan kemampuan bayar debitur serta potensi peningkatan risiko kredit jika ingin melakukan penyesuaian bunga kredit.
Kenaikan suku bunga acuan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) berpotensi membuat masyarakat Indonesia menghadapi biaya pinjaman yang tinggi, mulai dari cicilan KPR hingga kredit konsumsi.
Bank Mandiri melanjutkan kinerja solid hingga akhir Agustus 2026, dengan penyaluran kredit tumbuh 17,6% YoY, DPK meningkat 17,6% YoY, dan laba bersih tumbuh 22,3% YoY.
BRI terus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis dan kualitas aset melalui penerapan prinsip kehati-hatian saat penyaluran kredit ada di atas industri.
Purbaya menilai, kebijakan ekonomi di era Jokowi kurang mendorong sektor swasta dibndingkan era SBY, terlihat dari pertumbuhan uang beredar dan kredit yang lebih rendah.
BRI mencatat pertumbuhan penyaluran kredit sebesar 16,2% (yoy) hingga kuartal II 2026, melampaui rata-rata industri perbankan nasional yang sebesar 12,7%.
Kredit Himbara Rp 240 triliun ke Agrinas untuk pembangunan Kopdes akan dibayar melalui mekanisme APBN. Pemerintah menjamin kelancaran pembayaran, tetapi risiko kredit dan fiskal tetap membayangi.
Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) BI memberikan ruang bagi bank untuk memperoleh insentif pengurangan kewajiban GWM apabila mampu menyalurkan kredit sesuai kriteria yang ditetapkan.
Pertumbuhan ekonomi Indonesia memasuki babak baru yang menekankan kualitas, didorong peningkatan produktivitas dan pendalaman modal, setelah tumbuh 5,29% yoy pada kuartal II.