Investasi di Luar Jawa Tumbuh Dua Kali Lipat Ketimbang Jawa

Yura Syahrul
22 Januari 2016, 12:48
infrastruktur
Arief Kamaludin|KATADATA

KATADATA - Dalam setahun terakhir, investasi di luar Pulau Jawa terus mengalami peningkatan. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, realisasi investasi di luar Jawa selama 2015 mencapai Rp 248,7 triliun atau 45,6 persen dari total investasi di Indonesia sebesar Rp 545,4 triliun. Sedangkan realisasi investasi di Jawa mencapai Rp 296,7 triliun atau 54,4 persen dari total nilai investasi.

Meski masih lebih kecil ketimbang Jawa, porsi investasi di luar Jawa sebenarnya terus meningkat. Pada tahun 2014, porsinya masih 43,1 persen dari total nilai investasi atau sebesar Rp 199,8 triliun. Jadi, pertumbuhan nilai investasi di luar Jawa pada 2015 mencapai 24,5 persen. Laju pertumbuhannya dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan nilai investasi di Jawa selama 2015 yang sebesar 12,7 persen.

Kepala BKPM Franky Sibarani menyatakan, laju pertumbuhan investasi di luar Jawa ini menunjukkan upaya pemerintah melakukan pemerataan pembangunan sehingga tidak Jawa sentris. “Kenaikan proporsi realisasi investasi di luar Jawa merupakan salah satu indikator pemerataan yang mulai terjadi,” katanya saat pemaparan hasil realisasi investasi tahun 2015 di Gedung BKPM, Jakarta, Kamis (21/1).

Ia menambahkan, pemerintah akan terus mendorong agar proporsi investasi di luar Jawa terus meningkat. BKPM pun menargetkan proporsi realisasi investasi luar Jawa mencapai 49 persen dari total target investasi senilai Rp 594,8 triliun tahun ini.

Jika melongok ke tahun lalu, Kalimantan merupakan wilayah di luar Jawa yang mencatatkan kontribusi terbesar realisasi investasi sebesar 17,1 persen atau senilai Rp 93 triliun. Diikuti wilayah Sumatera Rp 84,4 triliun (15,5 persen) dan Sulawesi Rp 33,2 triliun (6,1 persen).

(Baca: Minim Insentif, Realisasi Investasi Sektor Padat Karya Melorot)

Secara lebih detail, realisasi investasi di Kalimantan terdiri dari penanaman modal dalam negeri (PMDN) sebesar Rp 20 triliun dan penanaman modal asing (PMA) US$ 5,8 miliar. Sektor yang dominan untuk PMDN adalah tanaman pangan dan perkebunan; industri kimia dasar, barang kimia dan farmasi; dan industri makanan. Untuk PMA adalah pertambangan; tanaman pangan dan perkebunan; dan industri logam dasar.

Sedangkan di Sumatera, realisasi investasi PMDN sebesar Rp 37,8 triliun dan PMA US$ 3,7 miliar. Sektor yang dominan untuk PMDN adalah listrik, gas dan air; industri kimia dasar, barang kimia dan farmasi; dan industri makanan. Untuk PMA adalah industri kimia dasar; industri kertas; dan listrik, gas dan air.

(Baca: Cina Melemah, Industri Manufaktur Indonesia Berpeluang Meningkat)

Berbeda dengan di Sulawesi, yang realisasi nilai investasi PMDN sebesar Rp 13,7 triliun didominasi oleh industri mineral nonlogam; industri makanan; dan industri logam dasar, barang logam, mesin dan elektronik. Adapun dengan nilai investasi PMA sebesar US$ 1,6 miliar di sana, sektor yang dominan adalah industri logam dasar; industri kimia dasar; dan pertambangan.

(Baca: Tahun Depan, Realisasi Investasi Luar Jawa Hampir Menyamai Jawa)

Kondisinya sangat berbeda dengan di Jawa. Sektor yang dominan untuk PMDN dengan nilai realisasi investasi sebesar Rp 296,7 triliun adalah transportasi, gudang dan telekomunikasi; konstruksi; dan industri makanan. Sedangkan sektor yang dominan untuk PMA dengan nilai investasi US$ 15,4 miliar adalah transportasi, gudang dan telekomunikasi; perumahan, kawasan industri dan perkantoran; dan listrik, gas dan air.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Ameidyo Daud Nasution

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...