BKPM: 54 Proyek Investasi Bisa Cetak Devisa Ekspor Rp 47,6 Triliun
KATADATA ? Pelemahan tajam mata uang rupiah pada tahun ini seharusnya dapat menjadi momentum untuk meningkatkan investasi. Terutama investasi yang berorientasi ekspor.
"Kalau dikatakan pengaruh (pelemahan rupiah) pasti ada, namun saya belum menemukan titik pelemahan berpengaruh terhadap investasi," kata Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani di Jakarta, Selasa (25/8).
Meskipun ada pelemahan permintaan di beberapa sektor usaha, seperti usaha berbasiskan komoditas, tekstil, semen, dan baja, belum ada tanda-tanda penurunan dari sisi minat investasi. Buktinya, menurut Franky, ada lima pabrik baru semen yang sedang dibangun. ?Sedangkan untuk baja itu tercatat kenaikan investasi hingga 100 persen di semester I lalu," imbuhnya.
Sementara itu, pelemahan rupiah saat ini merupakan kesempatan bagi pelaku usaha berorientasi ekspor untuk meningkatkan investasinya. Franky menceritakan pengalamannya ketika mengunjungi pabrik komponen otomotif dan elektronika. Sebanyak 70 persen dari masing-masing pabrik tersebut masih ditujukan untuk pasar ekspor. Itu menunjukkan tidak ada kekhawatiran pelaku usaha terhadap pelemahan rupiah. "Kuncinya adalah kalau kita berorientasi ekspor, di situ momentumnya ada," katanya. BKPM pun mencatat ada 54 proyek investasi yang berpotensi mendatangkan devisa dari kegiatan ekspor. Nilainya mencapai US$ 3,4 miliar atau setara dengan Rp 47,6 triliun.
Sebelumnya, para pelaku usaha sendiri mengaku pelemahan rupiah saat ini telah berdampak banyak terhadap kelangsungan usahanya. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Haryadi Sukamdani mengatakan, biaya produksi semakin meningkat sementara daya beli masyarakat menurun. Untuk itu, dia berharap pemerintah mengeluarkan kebijakan yang dapat menjaga stabilitas rupiah. ?Seperti serius menerapkan aturan wajib L/C (letter of credit atau surat kredit) untuk ekspor komoditas primer sehingga dana hasil ekspor dapat kembali ke dalam negeri,? katanya.
Adapun Wakil Ketua Real Estate Indonesia (REI) Theresia Rustandi mengungkapkan, volatilitas rupiah juga menyulitkan sektor properti. Pasalnya, biaya komponen konstruksi dan bahan bangunan meningkat. Apalagi, 30 persen bahan baku untuk bangunan tinggi berasal dari impor. ?Stabil itu penting. Industri sulit berkembang jika banyak surprise,? katanya.
