Merek Barang Mewah Dunia Makin Andalkan Pasar ke Cina
Industri barang mewah sangat bergantung pada pasar Cina dan Amerika Utara dalam beberapa tahun terakhir. Namun, beberapa merek barang mewah seperti Cartier dan Richemont mengalami penurunan penjualan di kedua pasar tersebut karena perlambatan ekonomi.
Merek-merek mewah telah menginvestasikan jutaan dolar untuk menjangkau pelanggan baru di dua pasar. Mereka membuka toko baru di tempat-tempat seperti Wuhan dan Zhengzhou.
Namun, perekonomian Cina goyah pada kuartal kedua. J.P.Morgan, Morgan Stanley dan Citigroup memangkas perkiraan pertumbuhan negara tersebut untuk tahun ini.
Richemont yang berbasis di Swiss mengumumkan penjualan selama tiga bulan hingga akhir Juni yang jauh dari harapan. Penjualan di Amerika turun 4% dan penjualan di Asia juga mengecewakan.
Sahamnya ditutup turun 10,43%. Begitu juga merek mewah lain mengalami penurunan saham seperti Hermes turun 4,21%, LVMH turun 3,7% dan Kering tergelincir 1,95%.
Cina "tidak akan melalui pemulihan permintaan berbentuk V melainkan peningkatan konsumsi multi-years di dalam dan luar negeri," prediksi analis di Citi setelah panggilan telepon dengan eksekutif Richemont, dikutip dari Reuters, Rabu (19/7).
Merek LVMH dan Chanel mencatatkan pendapatan kuartal pertama yang melambat di Amerika Utara. Kering dan Ferragamo juga mengalami penurunan dua digit dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Para produsen barang mewah itu mengandalkan Cina. Anggapannya, target konsumen kelas atas ini lebih terlindungi dari tekanan ekonomi.
Namun, asumsi tersebut belum tentu sesuai kenyataan. "Industri mewah tampaknya mengungguli pasar konsumen secara keseluruhan di Cina, tetapi Anda tahu, hampir semua orang yang Anda ajak bicara, ada tingkat ketidakpastian," kata direktur pelaksana Agility, Amrita Banta.
"Ada tingkat ketidaknyaman sepenuhnya dengan posisi ekonomi masa depan mereka yang benar-benar mempengaruhi hampir semua orang di Cina."
Masyarakat Cina meminati perhiasan dibandingkan produk sepatu, barang-barang kulit dan pakaian. Merek aksesori dan perhiasan seperti Chanel, Dior, dan Balenciaga mengalami peningkatan pembelian tertinggi pada kuartal terakhir.
Berdasarkan data BCG, konsumen mewah di Cina lebih muda daripada di seluruh dunia dengan usia rata-rata 28 tahun. Kondisi ini dianggap positif untuk pertumbuhan di masa depan.
Tetapi pengangguran di kalangan generasi muda juga meningkat dan mencapai rekor tertinggi. Kondisi ini bisa menimbulkan masalah regenerasi konsumen baru untuk barang mewah.
"Dalam tren yang saya lihat di AS dan juga di China, konsumen muda yang lebih aspiratif merasa lebih menderita," kata analis ekuitas senior Morningstar Jelena Sokolova.
Data Morgan Stanley menunjukkan beberapa pemain mewah, termasuk Richemont, memperoleh 40% dari pendapatan global di Cina. Ini meningkatkan kekhawatiran tentang ketergantungan yang berlebihan pada satu pasar, terutama yang secara luas dilihat sebagai titik nyala geopolitik di masa depan.
"Namun, mengingat penciptaan kekayaan di Cina dan AS dan kebangkitan budaya untuk kemewahan baru-baru ini, kedua pasar ini harus terus memperhitungkan sebagian besar pertumbuhan bertahap," kata analis HSBC, Erwan Rambourg.
