Alasan Penggunaan Transportasi Umum Masih Rendah di RI: Subsidi BBM

Andi M. Arief
20 Mei 2024, 13:51
bbm, subsidi bbm
ANTARA FOTO/Adwit B Pramono/wsj.
Ilustrasi. BBM yang digunakan untuk kendaraan pribadi dan mendapatkan bantuan oleh pemerintah adalah Pertalite dan solar.
Button AI Summarize

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional atau Bappenas menyatakan rendahnya pemakaian angkutan umum di DKI Jakarta disebabkan masih besarnya subsidi bahan bakar minyak atau BBM. Subsidi BBM membuat tarif angkutan umum lebih mahal dibandingkan menggunakan kendaraan pribadi. 

Adapun BBM yang digunakan untuk kendaraan pribadi dan mendapatkan bantuan oleh pemerintah adalah Pertalite dan solar. PT Pertamina mendapatkan bantuan berupa pembayaran kompensasi oleh pemerintah atas penjualan kedua jenis BBM tersebut.

Pemerintah telah membayar dana kompensasi untuk PT Pertamina pada awal tahun ini mencapai Rp 132,44 triliun untuk sembilan bulan pertama 2023. Sementara itu, Kementerian Perhubungan mendata total anggaran subsidi perintis sepanjang tahun lalu hanya Rp 9,1 triliun.

"Saya setuju kalau subsidi BBM direalisasikan untuk bantuan transportasi uum, tetapi harus dihitung lagi rencana itu karena pemangku kepentingannya banyak. Harus berpikir lebih strategis," kata Direktur Transportasi Bappenas Tri Dewi Virgiyanti dalam Forum Diskusi Transportasi: Satu Dekade Pembangunan Infrastruktur Transportasi, Jumat (17/5).

Virgiyanti mengakui keluarganya lebih memilih kendaraan pribadi daripada kendaraan umum. Ia memaparkan pangsa angkutan umum di kota-kota besar nasional hanya 20%, sedangkan 80% dari masyarakat perkotaan menggunakan kendaraan pribadi.

Angka tersebut jauh lebih rendah dibandingkan kota di negeri jiran seperti Kuala Lumpur, Malaysia dan Bangkok, Thailand dengan pangsa pasar angkutan umum mencapai 50%. Ini menjadi penyebab Jakarta, Surabaya, dan Bandung menjadi kota termacet di Asia.

Virgiyanti menunjukkan kemacetan di kota besar membuat dampak urbanisasi ke perekonomian sosial hanya 1,4% setiap 1% urbanisasi. Sementara itu, negara dengan penggunaan angkutan umum tinggi membuat dampak dari peningkatan 1% urbanisasi ke 3% perekonomian nasional.

Maka dari itu, Virgiyanti memaparkan konsumsi BBM untuk mobil dan sepeda motor pribadi akan terus naik hingga 2045. Menurutnya, permintaan energi di sektor transportasi naik hampir 5 kali lipat pada 2050 dibandingkan 2016.

Virgiyanti mengatakan peningkatan penggunaan transportasi umum merupakan strategi pemerintah untuk melindungi lingkungan. Sebab, Virgiyanti mencatat 91% emisi gas rumah kaca berasal dari transportasi darat.

"Namun kalau biaya transportasi menggunakan sepeda motor lebih murah, terpaksa angkutan umum sulit bersaing," katanya.

Reporter: Andi M. Arief
Editor: Agustiyanti

Cek juga data ini

Berita Katadata.co.id di WhatsApp Anda

Dapatkan akses cepat ke berita terkini dan data berharga dari WhatsApp Channel Katadata.co.id

Ikuti kami

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...