Apindo soal Tingginya Jumlah PHK: Lebih Penting Ciptakan Lapangan Kerja
Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bob Azam berpendapat penciptaan lapangan pekerjaan bagi masyarakat yang terkena pemutusan hubungan kerja jauh lebih penting, dibandingkan dengan angka PHK pada 2025.
Gelombang PHK , ia menyebut, tidak hanya terjadi di Indonesia. Salah satu bank besar di Singapura juga berencana untuk mengurangi 4 ribu tenaga kerja dalam beberapa waktu ke depan.
Saat ini konsentrasi terlalu banyak di angka pemecatan, tapi lupa bagaimana menciptakan lapangan kerja. "Persoalannya bagaimana yang PHK bisa dapat kerja lagi. Itu sebenarnya yang harus disiapkan. Itu yang jauh lebih penting," ujar Bob di Jakarta, dikutip dari Antara, Selasa (6/5).
Menurut dia, pemutusan hubungan kerja adalah persoalan yang kompleks dan tidak bisa dilihat dari satu sisi saja. Masalah perekonomian yang menjadi salah satu penyumbang PHK, sudah terjadi sejak 2019 atau sebelum Covid-19.
"Bukan baru lagi, dan juga implikasi ada perang dagang dan juga perang Ukraina dan Rusia. Jadi banyak faktor, tidak hanya terjadi di Indonesia, di negara lain juga sama," katanya.
Berdasarkan data =nasional, angka PHK di Indonesia untuk periode Januari hingga akhir April 2025 yang mencapai 24.036 pekerja. Untuk tiga provinsi terbanyak PHK yakni Jawa Tengah sebanyak 10.692 orang, Jakarta 4.649 orang, dan Riau sebanyak 3.546 orang.
Sedangkan tiga sektor terbanyak PHK yakni industri pengolahan sebanyak 16.801 orang, perdagangan besar dan eceran 3.622 orang, serta aktivitas jasa lainnya 2.012 orang.
Pemerintah saat ini sedang menyiapkan peraturan terkait pembentukan Satuan Tugas atau Satgas PHK, di bawah koordinasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Kementerian Sekretariat Negara (Kemensetneg).
