Warga Jakarta Habiskan Rata-rata 108 Jam per Tahun dalam Kemacetan

Andi M. Arief
31 Juli 2025, 17:17
Sejumlah kendaraan bermotor terjebak kemacetan di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (27/1/2025).
ANTARA FOTO/Reno Esnir/app/foc.
Sejumlah kendaraan bermotor terjebak kemacetan di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Senin (27/1/2025).
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Kementerian Perhubungan mendata total masyarakat Jakarta yang menggunakan kendaraan pribadi mencapai 66,89% dari jumlah penduduk. Alhasil, tingkat kemacetan di Jakarta masih 43% atau setara dengan waktu terbuang di jalan selama 108 jam selama satu tahun.

Direktur Jenderal Integrasi Transportasi dan Multimoda, Risal Wasal, menunjukkan 43,71% masyarakat Jakarta masih mengandalkan mobil pribadi. Adapun pengguna sepeda motor mencapai 23,18%.

Sementara itu masyarakat pengguna transportasi umum baru mencapai 2,5 juta atau 23,43% dari total penduduk pada tahun lalu. Persentase masyarakat yang menggunakan transportasi umum berupa kereta dan bus masih kurang dari 20%.

"Pertumbuhan jalan dan kendaraan posisinya saat ini berbanding terbalik. Karena itu, tugas utama kami untuk menekan kemacetan adalah mengajak masyarakat Jakarta bergeser ke transportasi umum," kata Risal di kantornya, Kamis (31/7).

Risal pun menunjukkan kondisi kemacetan Jakarta saat ini lebih buruk dari Ibu Kota Vietnam, Hanoi sebesar 33%. Walau demikian, pengguna kendaraan bermotor pribadi di Hanoi mirip dengan Jakarta, yakni 67,61% dari total penduduk.

Menurutnya, hal tersebut disebabkan karena tingkat kepadatan Hanoi lebih rendah yaitu 2,55 hektare, dibandingkan Jakarta yang mencapai 16,13 orang per hektare. Luas kota Hanoi mencapai 3,3 juta hektare, lebih besar dari Jakarta yang mencapai 661.500 hektare.

Selain itu, presentasi pejalan kaki di Hanoi lebih tinggi mencapai 16,9%.

Karena itu, Risal menargetkan dapat meningkatkan volume pengguna transportasi umum menjadi sekitar 4,5 juta hingga tahun depan.

"Pergerakan yang terjadi di Jakarta mencapai 75 juta pergerakan per hari. Penambahan penumpang transportasi umum sebanyak 2 juta orang berarti memindahkan 20 juta perjalanan keluar dari jalan," katanya.

Dengan demikian, Risal menargetkan total penumpang transportasi umum di Jakarta mencapai 4,5 juta orang pada tahun depan. Namun Risal mengaku belum menghitung dampak langkah tersebut ke angka kemacetan di Jakarta.

Jakarta jadi kota termacet ketujuh dunia pada 2024. Catatan itu disampaikan dalam Global Traffic Scoreboard 2024 yang dirilis Inrix, perusahaan data dan analisis transportasi di Amerika Serikat. Hasil ini tentu harus menjadi catatan tersendiri karena pada 2023 Inrix menempatkan Jakarta di peringkat 10.

Studi dilakukan pada hampir 1.000 kota di 37 negara. Hasilnya Jakarta ternyata lebih macet ketimbang beberapa kota di negara maju seperti Los Angeles di Amerika Serikat.

Dalam laporan disampaikan bahwa warga Jakarta harus menghabiskan waktu sekitar 89 jam per tahun di jalan. Jumlah ini lebih banyak ketimbang tahun sebelumnya yang cuma 69 jam.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...