IEU-CEPA Berlaku 2027, RI Diprediksi Kebanjiran Investasi Farmasi hingga EV

Andi M. Arief
4 Agustus 2025, 15:26
Pekerja melakukan proses produksi bahan baku kaca untuk industri kemasan farmasi, di kawasan Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu (24/4/2019). Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan pertumbuhan industri farmasi berupa produk obat kimi
ANTARA FOTO/Risky Andrianto
Pekerja melakukan proses produksi bahan baku kaca untuk industri kemasan farmasi, di kawasan Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu (24/4/2019). Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan pertumbuhan industri farmasi berupa produk obat kimia dan obat tradisional pada 2018 mencapai 4,46 persen.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Sebab, pemerintah telah menjamin keamanan investasi asal Uni Eropa dalam Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif antara Indonesia dan Uni Eropa atau IEU-CEPA.

Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kemendag, Djatmiko B. Witjaksono mengatakan IEU-CEPA akan menjamin akses pasar bagi kedua pihak. Menurutnya, kegiatan investasi yang dimaksud adalah fasilitasi promosi, kerja sama investasi, dan pengamanan investasi.

"Pihak Uni Eropa terindikasi sangat tertarik dan berkomitmen untuk investasi di beberapa bidang, termasuk energi baru terbarukan, kendaraan listrik, teknologi informasi dan komunikasi, dan farmasi. Uni Eropa sangat serius untuk meningkatkan investasi di sektor tersebut," kata Djatmiko di Menara Kadin, Senin (4/8).

Kementerian Investasi dan Hilirisasi mendata total investasi asal Eropa pada tahun lalu mencapai sekitar US$ 1,37 miliar di lebih dari 14.200 proyek. Dana segar asal Benua Biru umumnya tertanam di sektor industri pengolahan, kimia, logistik, dan teknologi hijau. 

Secara rinci, investasi terbesar dari Eropa sepanjang 2024 berasal dari Belanda atau mencapai US$ 841,2 juta dalam 2.571 proyek. Capaian tersebut diikuti oleh Inggris senilai US$ 133.9 juta dan Swiss sekitar US$ 127,1 juta. 

Di sisi lain, Djatmiko mengaku pemerintah telah membuka keran impor bagi produk asal Uni Eropa melalui IEU-CEPA. Namun Djatmiko berargumen langkah tersebut justru akan mendongkrak performa sektor manufaktur nasional.

Menurutnya, keran impor untuk Uni Eropa akan meningkatkan impor mesin berteknologi tinggi asal Jerman dan Perancis. Menurutnya, barang tersebut akan meningkatkan efisiensi pabrik di dalam negeri.

"Produk yang diimpor dari Eropa memang barang yang dibutuhkan dan bersifat komplementer. Mesin yang diimpor adalah yang tidak diproduksi di dalam negeri dan akan digunakan pabrik berorientasi ekspor," katanya.

Selain mesin, Djatmiko mencatat volume impor alat kesehatan berteknologi tinggi asal Eropa akan naik akibat IEU-CEPA. Djatmiko berargumen langkah tersebut justru akan meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di dalam negeri.

"Banyak produk alat kesehatan berteknologi dari Eropa yang memang diperlukan di dalam negeri. Ini kami berikan fasilitas supaya biaya kesehatan bisa kompetitif di Indonesia," katanya.

Sebelumnya, Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, mengatakan mengatakan perjanjian kemitraan IUE-CEPA akan ditandatangani pada September mendatang. “Rencananya tentu ini bisa segera ditandatangani dalam waktu bulan September. Kemudian diratifikasi sesegera mungkin," kata Rosan.

Ia memproyeksikan nilai perdagangan Indonesia ke Uni Eropa dapat meningkat dari US$ 30 miliar menjadi sekitar US$ 60 miliar setelah perjanjian IE CEPA bergulir nantinya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...