Pemerintah Tambah Jumlah Bandara Internasional, Menhub Dudy Ungkap Alasannya
Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi mengatakan salah satu pertimbangan penambahan bandara internasional adanya tren peningkatan permintaan layanan penerbangan. Ia menyebut pemerintah tak ingin kehilangan momentum pertumbuhan bila tak segera menambah jumlah bandara internasional.
“Jangan sampai peningkatan permintaan penerbangan ini pindah ke negara lain. Karena itu, kami mulai menyiapkan infrastruktur bandara internasional saat ini agar maskapai bisa menyediakan layanan di dalam negeri," kata Dudy di Jakarta Pusat, Kamis (14/8).
Asosiasi Transportasi Udara Internasional atau IATA sebelumnya mendata volume penumpang yang terbang dalam penerbangan internasional pada Mei 2025 naik 6,7% secara tahunan. Pertumbuhan permintaan tertinggi ada di kawasan Asia Pasifik atau mencapai 9,4% secara tahunan.
Meski mengejar momentum, Dudy menyatakan pemerintah tidak akan memaksa maskapai untuk membuka layanan penerbangan internasional pada bandara internasional yang akan dibuka. Menurutnya, pembukaan layanan oleh maskapai di bandara tersebut akan berdasarkan perhitungan bisnis.
Pada saat yang sama, Dudy mendorong pemerintah daerah untuk menyiapkan infrastruktur pendukung di sekitar bandara internasional yang akan kembali dibuka. Ia memberikan sinyal pembukaan bandara internasional berpotensi memantik minat investasi di daerah.
"Kalau memang ada pengusaha yang ingin berinvestasi di daerah akibat pembukaan bandara internasional, pemda harus menyiapkan lokasi-lokasi yang baik. Dengan demikian, pengusaha maupun wisatawan akan senang datang ke wilayah mereka," katanya.
Jumlah bandara internasional pra pandemi Covid-19 mencapai 34 unit dan susut menjadi 15 unit pada 2023. Sejak saat itu telah beroperasi dua bandara internasional baru, yakni Bandara Internasional Komodo, Nusa Tenggara Barat dan Bandara Internasional Dhoho, Jawa Tengah.
Direktur Jenderal Hubungan Udara Kemenhub, Lukman F Laisa mengatakan akan ada tiga bandara internasional yang tidak akan diaktifkan lagi. Tiga bandara itu adalah Bandara Internasional Maimun Saleh di Sorong, Bandara Internasional Husein Sastranegara di Bandung, dan Bandara Internasional Adisujipto di Yogyakarta.
Walau demikian, Lukman berencana menyematkan status internasional pada tiga bandara baru, yakni Bandara Domine Eduard Osok di Sorong, Bandara Aji Pangeran Tumenggung Pranoto di Samarinda, dan Bandara Mutiara SIS Al-Jufri di Palu. Menurutnya, tiga lokasi tersebut dipilih karena berdekatan dengan Kawasan Ekonomi Khusus. Lukman mengatakan tiga bandara internasional baru tersebut telah memiliki bangunan yang besar.
"”Kami berharap layanan di sana disediakan maskapai lokal, sebab bandara internasional membutuhkan waktu untuk menyediakan layanan secara lengkap," katanya.
