Cerita Pengusaha Tekstil di Bogor Tambah Pekerja di Tengah Tren PHK
Founder and Editor in Chief UKMIndonesia.id Dewi Meisari bercerita, salah satu anggota di bidang tekstil, terus bertumbuh di tengah tren PHK alias Pemutusan Hubungan Kerja.
“Saya tanya ke mereka ‘kamu kok kontra naratif ya? Yang lain sudah habis-habisan, kamu bisa bertahan,” kata Dewi dalam acara konferensi pers bertajuk ‘Redefining Indonesia’s Export Journey AI-Powered Trade, Quality Excellence, and Global Opportunities di Jakarta, Selasa (26/8).
Anggota UKMIndonesia atau pelaku usaha yang dimaksud yakni pembuat tas, yang memiliki fasilitas produksi dan perakitan produk alias workshop di Bogor. Pelaku usaha ini juga baru saja menggelar pameran di Brunei Darussalam.
“Katanya, mereka bisa bertahan karena jeli melihar tren tas. Mereka kemudian membuat versi yang lebih murah. Konsepnya mirip dengan pengusaha di Cina,” ujar dia. “Mereka juga menyematkan nuansa lokal misalnya, tenun pada produk tas yang dibuat.”
Dewi menyimpulkan bahwa produsen tas itu bertahan dan bahkan merekrut lebih banyak pekerja di tengah tren PHK, karena mendorong kreativitas. Caranya, dengan rajin mencari referensi dan mengkreasikannya agar lebih bernuansa Indonesia.
Ia tidak menyebutkan namanya, namun ada beberapa pelaku usaha tas di Bogor seperti Pabrik Tas Penta dan Wesback.
Berdasarkan akun Instagram Pabrik Tas Penta, usaha dengan nama PT Prima Mitra Carista ini sudah mendapatkan Sertifikat WCA atau Workplace Conditions Assessment terkait llingkungan kerja yang aman dan nyaman.
Kapasitas produk tas Penta mencapai 2.000 per hari. Tas yang dibuat beragam mulai dari handbag, shoulder bag sampai backpack untuk anak-anak maupun pengguna dewasa.
Sementara itu, Wesback berfokus membuat tas seminar, tas pelatihan, tas diklat, dan souvenir. Pelanggannya beragam, termasuk Bank Indonesia atau BI, Universitas Indonesia hingga Pelindo.
