Truk Cina Marak, Pemerintah Akan Buat Aturan Baru Soal Standar Mesin

Andi M. Arief
14 Oktober 2025, 16:16
truk cina
ANTARA FOTO/Angga Budhiyanto/agr
Ilustrasi truk.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita akan mewajibkan kendaraan komersial yang tidak masuk ke jalan umum  untuk wajib melakukan pengujian emisi. Kebijakan tersebut akan diterbitkan setelah maraknya truk asal Cina yang hanya beroperasi di kawasan pertambangan domestik.

Nantinya, setiap truk yang melewati jalan umum harus mematuhi standar emisi Euro  4, yakni emisi nitrogen oksida tidak boleh lebih dari 0,46 gram per kilowatt jam, dan emisi partikel padat harus kurang dari 0,02 gram per kilowatt jam.

Agus mengatakan  aturan tersebut tidak berlaku bagi truk yang tidak melewati jalan umum atau hanya beroperasi di kawasan privat. "Kami akan menyiapkan sebuah regulasi yang mengharuskan kendaraan di luar jalan umum harus mematuhi standar Euro 4 dalam waktu dekat," kata Agus di Jakarta Selatan, Selasa (14/10).

Dalam catatannya, jumlah truk yang diimpor secara utuh atau CBU lebih dari 3.600 unit pada tahun lalu.  Agus menyampaikan produsen truk nasional dapat memenuhi seluruh permintaan nasional. Sebab, volume produksi truk pada tahun lalu telah mencapai sekitar 73 ribu unit pada paruh pertama tahun ini.

"Truk dan kendaraan komersial lain yang diproduksi di dalam negeri sudah diwajibkan sesuai atau mendekati standar Euro 4," katanya.

Produksi Truk Isuzu dan Mitsubishi

Sebelumnya, PT Isuzu Astra Motor Indonesia atau IAMI mengakui pasar truk nasional telah disusupi truk asal Cina di kawasan pertambangan. IAMI yang memegang 28% pangsa pasar kendaraan komersial optimistis dapat mencapai target penjualan 25.000 unit tahun ini.

Communication Management Department Head Isuzu Astra Puti Annisa Moeloek menegaskan target pasar Isuzu tahun ini tidak terpengaruh dengan maraknya truk asal Cina di dalam negeri. Ia menilai salah satu pendorong penjualan pada akhir tahun ini adalah penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) menjadi 4,75% pada Rabu (17/9).

“Penjualan kami ke industri pertambangan tidak terlalu dominan. Penjualan kami kebanyakan ke industri logistik dan general transportation,” ujarnya.

Ia menekankan peningkatan penjualan Isuzu pada paruh kedua 2025 akan sangat bergantung pada performa sektor transportasi dan logistik. “Kalau perekonomian di industri transportasi dan logistik bergerak, hal tersebut pasti akan berefek ke penjualan kami,” ucapnya.

Sales and Marketing Director PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors Aji Jaya mengungkapkan serbuan truk Cina impor ilegal telah meresahkan pabrikan resmi di dalam negeri. Pasalnya, para produsen kendaraan niaga yang beroperasi di Indonesia sudah menanamkan investasi besar, sekaligus harus memenuhi berbagai regulasi pemerintah.

“Sektor mining kendalanya tidak hanya soal permintaan, tetapi juga saingannya saya bilang mungkin tidak sehat. Tadi itu ada brand-brand yang datang tak sesuai prosedur,” kata Aji di Jakarta Timur.

Menurut Aji, produk truk impor ilegal asal Cina juga tidak diwajibkan memenuhi sertifikasi standar Euro 4, berbeda dengan Mitsubishi Fuso dan produsen resmi lain. “Persaingan dalam bisnis biasa, hanya saja selama itu dilakukan fair,” katanya.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief
Editor: Sorta Tobing

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...