Budidaya Lebah di Tanah Sawit: Antara Manisnya Madu dan Ganasnya Beruang
Sepetak lahan budi daya lebah madu berdiri di tengah perkebunan sawit yang terletak di Dusun III, Desa Aur Duri, Kecamatan Rambang Niru, Muara Enim, Sumatra Selatan. Usaha ini dimiliki pria kelahiran 1961, bernama Bustam.
Dia menjalankan usaha bersama kawanan kecilnya, beranggotakan 9 orang yang diberi nama Kelompok Budi Daya Lebah Madu Karya Maju Bersama. Kelompok tersebut merupakan binaan KKKS Medco E & P Lematang (Medco E&P). Bustam mengklaim, kelompok budi daya lebah madu liar ini menjadi satu-satunya yang ada di Sumatra Selatan.
Perlu berjalan sekitar lima menit dari jalan desa menuju lokasi budi daya. Area tersebut hanya berisi sebuah pondok dan lahan ternak madu yang diapit perkebunan sawit dan karet milik Bustam.
Dia bercerita, usaha ternak lebah madu ini dimulainya sejak 2014 secara mandiri. Namun pada 2016, dia mendapatkan pelatihan pengelolaan lebah madu dari Medco.
“Dulu kami tidak punya modal, tapi semenjak dibina kami diberikan modal secara keseluruhan, termasuk kotak-kotak (tempat ternak lebah),” kata Bustam saat ditemui di pondoknya, Senin (20/10).
Para petani tersebut beternak lebah secara berkelompok. Kotak pemeliharaan lebah ditempatkan pada lokasi peternakan dengan jarak standar sesuai jenis lebah. Madu yang dihasilkan berasal dari Lebah Madu jenis Apis Cerana. Lebah ini bisa dibudidayakan secara tradisional maupun modern dalam kotak yang bisa dipindah-pindahkan.
Lebah dan Bunga
Saat pengembangbiakan, usaha memperbanyak tanaman bunga yang disukai lebah merupakan hal yang penting. Hal itu bisa membantu lebah memperoleh makanan dari bunga-bunga tersebut. Sehingga produksi madu sendiri tergantung dari kualitas bunga yang ada di sekitar peternakan.
Umumnya petani yang beternak lebah, memanen serentak di lokasi ternak lebah maupun di pekarangan rumah masing-masing.
Periode panen madu ini hanya berlangsung pada Juli hingga Oktober saat musim kemarau. Panen ini tidak terjadi setiap hari, namun Bustam dan kelompoknya bisa memanen tiga minggu sekali selama periode bulan tersebut.
“Pokoknya selama musim kemarau, kami bisa panen. Madu kami ini liar sehingga mudah terganggu, kalau musim hujan kami panen, madunya akan pergi,” ucapnya.
Panen Madu hingga 170 Kg
Meski baru berdiri 11 tahun, namun jumlah pendapatan yang diraup Bustam dan kawanannya terbilang cukup banyak. Bustam sendiri memiliki 10 kotak budi daya, yang tiap wadah tersebut bisa menghasilkan madu 2 hingga 5 kilogram (kg) sekali panen.
Adapun harga jual madu Bustam mencapai Rp 130 ribu per kg. “Rata-rata sekali panen 24 kilogram (pada September), kadang juga dapat 17 kg. Tapi tahun ini kami sudah memanen sekitar 170 kg secara total,” ujarnya.
Menurutnya, angka total panen tersebut tergolong kecil. Pasalnya, pada periode-periode sebelumnya kelompok tani tersebut pernah berhasil memanen madu lebih dari satu ton per tahunnya.
Madu yang sudah diambil dari kotak budi daya lalu masuk proses pemerasan, menggunakan mesin yang diputar secara manual. Proses tersebut dilakukan dipondoknya yang bersebelahan dengan lokasi budi daya.
Setelah terkumpul, Bustam akan membungkusnya menjadi produk madu botolan ukuran 450 mililiter yang dibandrol Rp 65 ribu dan produk budi daya kelompok tani ini, siap dipasarkan.
Segmentasi pasar yang dijangkau Bustam masih terbatas sebetulnya, sebab dia hanya mengandalkan pesanan masyarakat yang masuk kepadanya. Meskipun, dia juga menerima pesanan pengiriman keluar daerah hingga Pulau Jawa, namun usahanya ini belum merambah ranah digital.
Ternak lebah kini menjadi solusi bagi petani di sana sebagai mata pencarian untuk bertahan hidup. Apalagi kini masyarakat mulai tahu bahwa madu hasil petani tersebut berkhasiat bagi imunitas tubuh.
Diserang Beruang
Usaha budi daya lebah madu ini tidak selalu mulus, Bustam menyebut ada dua hal yang menjadi tantangan dalam pengembangan usaha tani ini. Pertama, berkaitan konflik atau penyerangan dari beruang madu yang mengakibatkan rusaknya media kotak budi daya miliknya.
“Ada 30 kotak lebih, semuanya hancur gara-gara beruang. Ini terjadi karena dulu tidak dipagari, sekarang sudah dipagari dengan seng sehingga tidak bisa masuk,” katanya.
Penyerangan beruang terakhir kali dirasakannya pada 2022. Dia bercerita, kedatangan beruang di lokasi budi dayanya terjadi pada malam hari saat tidak ada orang yang menjaga pondok. Hewan yang berukuran sebesar kambing ini melahap madu dan hanya menyisakan satu kotak terakhir untuk Bustam.
Padahal, perlu modal Rp 500 ribu per kotaknya untuk melakukan budi daya madu liar ini. Meski merugi, Bustam hanya bisa pasrah akan terjadinya serangan tersebut.
Selain beruang, tantangan lain yang dihadapi Bustam adalah semakin mengecil kelompok tani miliknya. Dahulu, jumlah anggotanya mencapai 30 orang sehingga jumlah produksi madu yang dihasilkan melampaui 1 ton per tahun.
Kendati demikian, Bustam saat ini berencana untuk mengembangkan usahanya, dengan menambah varian madu lain bernama lanceng sebagai produk teranyarnya. Lanceng merupakan jenis madu yang dihasilkan dari lebah berukuran lebih kecil dibandingkan lebah pada umumnya.
Media penghasil madunya pun sedikit berbeda dari lebah umum, sebab madu lanceng ini langsung menempel pada kotak, tanpa perlu media sarang yang disiapkan petani.
Meski begitu, budi daya madu lanceng ini memakan waktu lebih lama dibandingkan madu biasanya. “Enam bulan panennya, setiap bulan kami panen 10 kotak,” kata dia.
Walaupun lama, Bustam menyebut madu lanceng memiliki kualitas dan harga yang lebih bagus dibandingkan madu pada umumnya.


