Bos Bosch Indonesia Desak Pemerintah Tertibkan Banjir Impor Alat Elektronik Cina
PT Bosch Indonesia mendorong pemerintah untuk menciptakan pasar yang adil di tengah derasnya arus impor produk elektronik asal Cina. Hal tersebut dinilai penting lataran Bosch telah memulai pembangunan pabrik keduanya di dalam negeri pada hari ini, Rabu (19/11).
Managing Director Bosch Indonesia Pirmin Rieger mensinyalir adanya ketimpangan pasar terhadap produk elektronik kecil rumah tangga asal Cina di dalam negeri. Walau demikian, Pirmin mendorong agar pasar domestik tidak menutup diri dari produk impor.
"Permintaan kami kepada pemerintah hanya memastikan agar kompetisi antara produk impor Cina dan yang diproduksi di dalam negeri adil dan pasar tetap terbuka," kata Pirmin dalam upacara peletakan batu pertama pabrik kedua Bosch di Cikarang, Rabu (19/11).
Dengan demikian, Pirmin menyampaikan produk besutan Bosch dapat bersaing di dalam negeri dari sisi inovasi di pasar domestik. Seperti diketahui, Bosch memiliki beberapa produk elektronik kecil rumah tangga, seperti kompor listrik, microwave, dan penghisap debu.
Pirmin menyapaikan fokus pertama produksi pabrik yang dijadwalkan rampung awal 2027 tersebut adalah komponen otomotif untuk EV. Namun Pirmin mengaku pihaknya berencana masuk ke pasar peralatan elektronik rumah tangga sektiar 1-2 tahun setelah pabrik tersebut beroperasi.
Seperti diketahui, mayoritas produksi Bosch di dalam negeri adalah komponen otomotif, seperti kipas pendingin mesin dan electronic control unit (ECU). Pirmin mengaku tidak terlalu mengkhawatirkan maraknya mobil EV asal Cina di dalam negeri saat ini.
Pirmin menyampaikan sebagian besar produsen EV di Cina telah menyerap hasil produksi pabrik Bosch di Negeri Panda. Karena itu, Pirmin menilai hasil produksi lokal dapat memenuhi standar yang diinginkan produsen EV asal Cina di dalam negeri.
"Tujuan utama kami untuk produsen EV asal Cina di dalam negeri saat ini tentu saja meyakinkan mereka untuk menjadi pelanggan kami. Bisnis utama kami adalah pemasok komponen otomotif EV," katanya
Presiden Bosch Asia Tenggara Vijay Ratnaparkhe mengatakan maraknya impor produk asal Cina tidak menjadi masalah dalam menambah investasi di dalam negeri. Untuk diketahui, Bosch telah memulai pembangunan pabrik yang berpotensi menyerap dana segar hingga EUR 259 juta atau sekitar Rp 4,84 triliun di Cikarang, Jawa Barat
Vijay menyampaikan pihaknya telah berhasil masuk ke pasar EV di Cina. Namun Vijay menekankan pertimbangan utama penambahan investasi Bosch di Indonesia adalah nilai pasar yang tinggi dibandingkan negara lain di Asia Tenggara.
"Nilai perekonomian Indonesia tiga kali lebih besar dibandingkan negara lain di Asia Tenggara. Saat nilai perekonomian negara lain sekitar US$ 500 juta, kalian telah mencapai US$ 1,5 triliun," kata Vijay.
Vijay meramalkan nilai perekonomian Indonesia masih akan tumbuh lantaran pertumbuhan ekonomi nasional konsisten 5% selama dua dekade terakhir. Menurutnya, pertumbuhan tersebut akan ditopang oleh konsumen muda yang menginginkan produk berkualitas dan berteknologi tinggi.
Selain itu, Vijay menilai pencarian sumber daya manusia untuk mendukung produksi Bosch di dalam negeri tidak sulit mengingat mayoritas populasi Indonesia melek teknologi. Badan Pusat Statistik mendata sekitar 22,99% umur populasi nasional adalah 16-30 tahun.
"Kalau kami tidak melakukan investasi pembangunan pabrik sekarang, kami akan terlambat. Dari kaca mata kami, Indonesia menjadi negara paling penting untuk melakukan investasi di Asia Tenggara," katanya.
