Wamen PU: Alih Fungsi Lahan Jadi Penyebab Banjir di Aceh, Sumut, dan Sumbar

Andi M. Arief
28 November 2025, 17:55
Foto udara sejumlah rumah diterjang banjir bandang di kawasan Gunung Nago, Padang, Sumatera Barat, Jumat (28/11/2025). Banjir bandang terjadi pada Jumat (28/11/2025) dini hari dan semakin meluas akibat jebolnya bendungan Gunung Nago di Pauh, sehingga meng
ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra/sg
Foto udara sejumlah rumah diterjang banjir bandang di kawasan Gunung Nago, Padang, Sumatera Barat, Jumat (28/11/2025). Banjir bandang terjadi pada Jumat (28/11/2025) dini hari dan semakin meluas akibat jebolnya bendungan Gunung Nago di Pauh, sehingga mengakibatkan jembatan putus, sejumlah rumah rusak dan warga mengungsi.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Kusumastuti mengatakan penyebab utama banjir di bagian utara Pulau Sumatera adalah alih fungsi hutan selama beberapa tahun terakhir. Perubahan kawasan hutan akhirnya membuat serapan air berkurang dan tidak bisa membendung curah hujan yang berlangsung sejak awal pekan ini.

"Salah satu penyebab banjir di DI Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat adalah alih fungsi lahan yang dulunya hutan berubah menjadi lahan pertanian, permukiman, dan lainnya. Itu yang menyebabkan banjir," kata Diana di kantornya, Jakarta, Jumat (28/11).

Global Forest Watch mendata Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat kehilangan luas hutan primer basah lebih dari 300 ribu hektare pada 2022-2024. Alih fungsi hutan di Aceh dan Sumatra Barat disebabkan oleh penggunaan kayu hutan sebagai komoditas, sedangkan penyebab di Sumatera Utara adalah penggunaan permukiman dan infrastruktur.

Secara rinci, Sumatera Utara kehilangan 390 ribu hektare (ha) hutan primer basah, menyumbang 25% dari total kehilangan tutupan pohon dalam periode yang sama. Area total hutan primer basah berkurang 19% dalam periode waktu ini.

Sumatera Barat kehilangan 320 ribu ha hutan primer basah, menyumbang 44% dari total kehilangan tutupan pohon dalam periode yang sama. Area total hutan primer basahnya berkurang 14%.

Terakhir, Aceh kehilangan 320 ribu ha hutan primer basah, menyumbang 38% dari total kehilangan tutupan pohon dalam periode yang sama. Area total hutan primer basahnya berkurang 9%

Juru Kampanye Wahana Lingkungan Hidup (WALHI) untuk isu Hutan dan Perkebunan Uli Artha menyatakan cuaca ekstrem bukan penyebab utama bencana tersebut. Yang lebih berdampak adalah hilangnya tutupan hutan akibat aktivitas industri ekstraktif.  

“Penyebab utamanya adalah kerentanan ekologis yang semakin tinggi kerentanannya,” ujar Uli kepada Katadata.co.id, Jumat (28/11).

Menurut dia, kerentanan ekologis meningkat akibat masifnya izin industri ekstraktif yang menggerus kawasan penting ekosistem. Landscape Bukit Barisan yang membentang di Sumatera disebut memiliki fungsi ekologis yang genting. Namun, pengelolaannya dinilai bermasalah.

“Kalau melihat konteks Sumatera itu sebenarnya satu lansekap Bukit Barisan itu adalah wilayah ekologis yang punya fungsi penting dan genting. Jadi kalau misalnya lansekap ini salah urus oleh pemerintah, dia akan berdampak besar dalam konteks bencana ekologis,” kata Uli.

Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Andi M. Arief
Editor: Sorta Tobing

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...