Harga Cabai hingga Ayam Naik Jelang Ramadan, Pedagang Sebut Harga Terkendali
Sejumlah harga bahan pokok terpantau naik menjelang Ramadan 2026. Mayoritas komoditas yang mengalami kenaikan utama adalah cabai hingga daging ayam, dengan kenaikan sebesar Rp 5 – 10 ribuan per kilogram.
Berdasarkan pantauan di Pasar Anyar Bogor, pada Rabu (18/2) pagi, harga cabai tercatat mengalami kenaikan mencapai Rp 5 – 20 ribu per kilogram dalam sepekan terakhir. Cabai biasa kini dijual Rp 35 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp 30 ribuan.
Cabai rawit merah menyentuh Rp100 ribu per kilogram dari semula Rp 80 ribuan, cabai rawit hijau Rp 60 ribu, cabai merah keriting Rp 80 ribu, dan cabai hijau Rp 45 ribu per kilogram.
Selain cabai, harga tomat juga melonjak cukup signifikan menjadi Rp 15 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp 8 ribu. Bawang merah naik ke Rp 40 ribu per kilogram dari kisaran Rp 30 ribuan. Sementara bawang putih dijual Rp 42 ribu per kilogram.
Salah satu pedagang sayur, Raya (43), mengaku tidak mengetahui secara pasti titik awal kenaikan harga tersebut. Namun, ia meyakini faktor cuaca menjadi penyebab utama.
“Cabai ini kalau musim hujan memang musimnya naik harga. Selain itu menjelang Ramadan harga juga selalu naik,” ujarnya saat ditemui di lokasi, Rabu (18/2).
Ia menambahkan, cuaca yang tidak menentu membuat panen dan distribusi terganggu. Meski demikian, menurutnya kenaikan harga tahun ini masih tergolong wajar dibandingkan tahun sebelumnya.
Komoditas lainnya juga mengalami kenaikan meski relatif tipis. Minyak goreng curah naik menjadi Rp 20 ribu per kilogram. Harga ayam potong kini Rp 40 ribu per kilogram dari sebelumnya Rp 35 ribuan, sedangkan telur Rp 32 ribu per kilogram. Harga beras medium tercatat Rp 16 ribu per kilogram.
Sementara itu, harga daging sapi berada di kisaran Rp 140 ribuan per kilogram, dari harga sebelumnya Rp 130 – 135 ribuan.
Raya memperkirakan harga akan kembali turun di pertengahan Ramadan sebelum kembali naik menjelang Idulfitri. “Biasanya awal Ramadan sampai pertengahan itu turun lagi, lalu naik lagi jelang Lebaran. Tahun ini masih terkendali,” ujar dia.
Hal senada disampaikan pedagang daging, Hendra (40). Ia menyebut kenaikan harga menjelang Ramadan tahun ini masih berada pada harga tingkat wajar. Ia berkaca pada tahun sebelumnya yang meningkat signifikan.
Menurutnya, patokan kenaikan yang tidak terkendali biasanya terlihat dari harga daging sapi. Jika harga daging melonjak tajam, maka kondisi pasar dinilai kurang stabil.
“Ini naik masih wajar, tidak setinggi tahun lalu. Dulu daging di tanggal-tanggal H-1 puasa sudah menyentuh Rp150.000 per kilogram,” katanya saat ditemui di lokasi.
Pemasukan bagi penjual disebutnya tak naik signifikan. “Sama saja, namanya musim puasa orang belanja banyak, ya ikut harga. Pemasukan naik tipis karena volume pembeli naik, tapi margin ada beberapa yang berkurang,” kata Hendra.
Bapanas Minta Harga Pangan Tak Naik
Sebelumnya, Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman mengancam akan mencabut izin produsen yang menjual bahan pangan di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) menjelang Ramadan dan Idulfitri 2026.
Dia memastikan stok pangan Indonesia tahun ini berada pada level tertinggi sepanjang sejarah, dan meminta seluruh pengusaha untuk tidak menaikkan harga di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan pemerintah.
“Karena yang pertama, beras kita stoknya tertinggi sepanjang sejarah. Ini mungkin pertama kalinya di bulan Februari stok kita mencapai 3,4 juta ton. Biasanya hanya 1 juta sampai 1,5 juta ton,” kata Amran dalam konferensi pers Gerakan Pangan Murah di kantornya, Jakarta Selatan, Jumat (13/2).
Selain itu, ia menyebut tersedia SPHP sebanyak 1,5 juta ton dengan harga maksimal Rp 12.500 per kilogram, serta minyak goreng yang dipegang pemerintah sebanyak 700 ribu ton dengan harga maksimal Rp 15.700. Harga daging juga disebutnya sudah ditetapkan sesuai HET, yakni Rp 40.000 untuk ayam dan Rp 140.000 untuk sapi.
Selain beras, Indonesia adalah produsen terbesar minyak goreng di dunia. Saat ini, Indonesia juga telah swasembada untuk sembilan komoditas: beras, jagung (tidak impor untuk pakan), bawang merah, cabai, telur, ayam, dan lainnya.
