Perusahaan Raksasa Mamin AS Ramai Ubah Resep Produk Jadi Lebih Sehat, Ada Apa?

Kamila Meilina
19 Februari 2026, 10:47
Pelajar memilih produk makanan dan minuman di dalam swalayan di Bandung, Jawa Barat, Senin (1/12/2025). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Provinsi Jawa Barat pada November 2025 secara bulanan (mtm) mencapai 0,16 persen sementara secara tahunan
ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/agr
Pelajar memilih produk makanan dan minuman di dalam swalayan di Bandung, Jawa Barat, Senin (1/12/2025). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Provinsi Jawa Barat pada November 2025 secara bulanan (mtm) mencapai 0,16 persen sementara secara tahunan (yoy) mencapai 2,54 persen dengan komoditas penyumbang inflasi yakni kelompok makanan, minuman, tembakau, dan pakaian alas kaki.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Perusahaan makanan dan minuman besar di Amerika Serikat mulai menggelontorkan investasi besar untuk reformulasi dan rebranding produk pada 202. Keputusan itu menyusul meluasnya penggunaan obat penurun berat badan berbasis GLP-1 yang menekan nafsu makan konsumen.

Raksasa industri seperti PepsiCo dan The Coca-Cola Company kini berfokus pada daftar bahan yang lebih sederhana, kandungan nutrisi lebih tinggi, serta ukuran kemasan yang lebih kecil guna menyesuaikan perubahan pola konsumsi. 

Melansir Reuters, perubahan strategi ini mencerminkan keyakinan bahwa tren penggunaan obat anti-obesitas bukan fenomena sementara, melainkan akan berdampak jangka panjang pada industri makanan global.

Data LSEG menunjukkan hampir tiga lusin perusahaan di luar sektor kesehatan telah menyinggung dampak obat GLP-1 atau penurunan berat badan dalam paparan kinerja keuangan mereka tahun ini. Jumlah itu meningkat signifikan dibandingkan 14 perusahaan pada periode yang sama tahun lalu dan hanya lima perusahaan dua tahun sebelumnya.

Konsultan EY-Parthenon memperkirakan perubahan pola makan akibat penggunaan obat ini dapat menyebabkan potensi kehilangan penjualan makanan ringan hingga US$12 miliar atau setara Rp 203,4 triliun (kurs Rp16.950 per US$) dalam satu dekade mendatang.

Analisis PwC juga menemukan adopsi obat GLP-1 meningkat lebih dari dua kali lipat dalam 12 bulan hingga Desember, dengan sekitar 20% rumah tangga di AS kini memiliki setidaknya satu pengguna obat tersebut. 

Secara rata-rata, pengguna GLP-1 mengonsumsi 40% lebih sedikit kalori, konsumsi makanan penutup turun hingga 84%, dan konsumsi alkohol menurun 33%. Sebaliknya, konsumsi produk segar meningkat lebih dari 70%.

Selain itu, ukuran belanja rumah tangga juga menyusut, dengan total belanja keluarga turun sekitar 4% hingga 6%, dan penurunan mencapai 9% pada rumah tangga individu.

Reformulasi Produk Meningkat

Menghadapi perubahan ini, perusahaan Big Food meningkatkan belanja modal dan investasi riset dan pengembangan untuk reformulasi alias mengubah resep. Belanja modal diperkirakan naik signifikan, termasuk lonjakan hingga 23% di General Mills pada tahun ini.

PepsiCo meluncurkan lini baru “Simply NKD” untuk mereformulasi camilan dengan bahan yang lebih sederhana serta menghapus pewarna buatan dari produk seperti Lay’s dan Gatorade. Perusahaan juga menguji konsep makanan mini melalui merek Sabra dan Siete untuk menyesuaikan kebutuhan konsumen yang mengonsumsi porsi lebih kecil.

CEO PepsiCo Ramon Laguarta mengatakan tren ini menghadirkan peluang sekaligus tantangan. “Saya pikir ada lebih banyak peluang daripada ancaman, tetapi keduanya tetap ada,” ujarnya, dikutip dari Reuters (19/2). 

Sementara itu, The Coca-Cola Company meningkatkan produksi susu berprotein tinggi Fairlife untuk memenuhi permintaan produk bernutrisi tinggi. General Mills juga meluncurkan sereal Cheerios dengan berprotein lebih tinggi sebagai respons terhadap perubahan preferensi konsumen.

CEO General Mills Jeffrey Harmening mengatakan obat anti-obesitas akan memberikan dampak jangka panjang pada lanskap makanan dan nutrisi. 

“Kami memperkirakan obat GLP-1 akan mendorong konsumen memilih porsi lebih kecil dan makanan dengan kandungan protein dan serat yang lebih tinggi,” ujarnya.

Investasi Besar untuk Revitalisasi Produk Lama

Perubahan strategi mulai terlihat di sejumlah perusahaan makanan besar. Kraft Heinz misalnya, membatalkan rencana pemisahan bisnis dan memilih menginvestasikan US$ 600 juta atau setara Rp 10,1 triliun pada 2026 untuk menghidupkan kembali produk andalannya, termasuk daging olahan Oscar Mayer. 

Hal serupa juga dilakukan Conagra Brands yang meningkatkan investasi pada camilan berbasis protein seperti Slim Jim, kacang-kacangan, dan biji-bijian. Produk-produk ini dinilai lebih sesuai dengan permintaan konsumen, terutama generasi muda, yang kini cenderung mencari makanan lebih sehat dan bernutrisi.

Peluang ini juga dimanfaatkan perusahaan yang lebih kecil seperti Snap Kitchen. Perusahaan makanan siap santap ini memperluas menu dengan kandungan protein tinggi dan serat untuk memenuhi kebutuhan konsumen. CEO Snap Kitchen Mitchell Raisch mengatakan tren obat GLP-1 telah mempercepat inovasi dan pengembangan produk di perusahaannya.

Para analis menilai dampak obat anti-obesitas terhadap industri makanan baru mulai terasa, namun efeknya diperkirakan akan sangat besar. Menurut analis PwC Ali Furman, perubahan ini berpotensi mengubah cara konsumen makan secara mendasar dan memaksa industri makanan beradaptasi lebih cepat.



Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...