Menperin akan Dorong Produksi Kendaraan Pick Up, Soroti Nilai Tambah Ekonomi
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan industri otomotif nasional mampu memproduksi kendaraan niaga jenis pick up. Dia juga mengatakan, produksi kendaraan tersebut bisa memberikan dampak ekonomi besar.
Agus menjelaskan, pemenuhan kebutuhan kendaraan pick-up sebanyak 70.000 unit melalui produksi domestik. Dia mengatakan, produksi tersebut dapat menghasilkan dampak ekonomi ke belakang hingga sekitar Rp 27 triliun.
Dampak itu berasal dari aktivitas berbagai subsektor industri yang terlibat dalam rantai produksi kendaraan, mulai dari industri ban, kaca, baterai, logam, plastik, kabel, hingga elektronik.
“Apabila seluruh kebutuhan kendaraan pick-up dipenuhi melalui impor, maka nilai tambah ekonomi dan penyerapan tenaga kerja akan dinikmati oleh industri di luar negeri,” ujar Agus dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (19/2).
Saat ini, industri otomotif nasional memiliki kapasitas produksi kendaraan pick-up yang signifikan, mencapai sekitar 1 juta unit per tahun. Sejumlah produsen yang telah memproduksi kendaraan pick-up di Indonesia antara lain PT Astra Daihatsu Motor, PT Isuzu Astra Motor Indonesia, PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Indonesia, PT Suzuki Indomobil Motor, PT SGMW Motor Indonesia, serta PT Sokonindo Automobile.
Agus menilai industri otomotif nasional mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik sekaligus meningkatkan daya saing global. Ia juga mengatakan bahwa kualitas kendaraan pick-up produksi dalam negeri kompetitif dan mampu memenuhi kebutuhan operasional di berbagai wilayah Indonesia.
Namun, Agus mengakui bahwa Indonesia saat ini belum memproduksi kendaraan pick-up tipe penggerak empat roda (4x4) yang dirancang khusus untuk medan berat seperti tambang dan perkebunan.
Ini karena kendaraan pick-up 4x4 memiliki biaya perawatan yang relatif lebih mahal, ketersediaan suku cadang yang terbatas, serta nilai jual kembali yang lebih rendah dibandingkan kendaraan pick-up 4x2 yang telah diproduksi di dalam negeri.
Agus juga mengatakan, pemerintah akan mendorong peningkatan penggunaan komponen dalam negeri, memperkuat rantai pasok industri otomotif, mengembangkan industri komponen, serta meningkatkan investasi dan penguasaan teknologi manufaktur.
“Kami terus mengajak pelaku industri otomotif agar menjaga keberlangsungan usaha sekaligus mempertahankan tenaga kerja, sehingga tidak terjadi pemutusan hubungan kerja di tengah tantangan industri,” kata dia.
