Kementan Siapkan Irigasi Pertanian untuk Hadapi El Nino
Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan infrastruktur irigasi serta pompanisasi untuk mengairi 2 juta hektare lahan pertanian yang menghadapi risiko kekeringan akibat El Nino.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan El Nino diperkirakan mulai melanda pada April mendatang. Namun, ia menyebut pemerintah telah berpengalaman menghadapi El Nino besar pada 2015, 2016, dan 2023.
“Di lapangan sudah siap pompanisasi 1,2 juta hektare yang bisa menjangkau lahan saat tidak ada hujan. Kemudian tahun ini kita siapkan lagi 1 juta hektare, jadi sekitar 2 juta hektare lahan bisa diairi saat musim kering,” ujar Amran dalam konferensi pers di kantornya, Jumat (6/3).
Ia menjelaskan pompanisasi tersebut memanfaatkan sumber air dari sungai, embung, hingga sumur dalam dan sumur dangkal. Selain itu, pemerintah juga melakukan rehabilitasi jaringan irigasi sekitar 1 juta hektare guna memastikan distribusi air ke lahan pertanian berjalan optimal.
Menurut Amran, fenomena El Nino yang diperkirakan terjadi tahun ini relatif lebih lemah dibandingkan sebelumnya. Oleh karena itu, dengan berbagai persiapan infrastruktur yang telah dilakukan, pemerintah optimistis dampaknya terhadap produksi pangan dapat ditekan.
“Kalau dulu kita belum siap, sekarang infrastrukturnya sudah disiapkan. Ibaratnya kita sudah menyiapkan payung sebelum hujan,” katanya.
Selain infrastruktur air, Kementan juga menyiapkan sejumlah strategi lain untuk menjaga produksi pertanian. Ini seperti penyediaan bibit unggul tahan kekeringan, optimalisasi lahan rawa sekitar 1 juta hektare, serta penyediaan alat dan mesin pertanian.
Pemerintah juga memastikan ketersediaan pupuk bagi petani. Amran menyebut harga pupuk disebut telah turun sekitar 20% sehingga diharapkan dapat mendorong peningkatan produksi pertanian.
Di sisi lain, ia mencatat stok beras nasional saat ini mencapai sekitar 3,76 juta ton, yang disebut sebagai level tertinggi untuk periode Maret sepanjang sejarah. Dengan produksi beras bulanan yang berkisar antara 2,6 juta hingga 5,7 juta ton, pemerintah menilai pasokan pangan nasional dalam kondisi aman.
“Yang paling vital adalah beras, karena konsumsi masyarakat kita sekitar 65 sampai 70 persen berasal dari beras. Karena itu kita pastikan produksinya tetap terjaga,” ujar Amran.
Ia menegaskan berbagai langkah antisipasi tersebut telah dirancang sejak awal pemerintahan untuk menghadapi berbagai kemungkinan, mulai dari El Nino, La Nina, hingga dinamika geopolitik global yang dapat memengaruhi ketahanan pangan.
“Kita sudah rancang sejak awal agar pertanian Indonesia siap menghadapi segala kemungkinan,” katanya.
