Harga Plastik Naik, UMKM Terpaksa Tahan Harga dan Pangkas Margin
Asosiasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah Indonesia (Akumindo) menilai kenaikan harga plastik mulai dirasakan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kondisi ini memaksa para penjual menahan kenaikan harga jual sekaligus memangkas margin keuntungan demi menjaga daya beli konsumen.
Sekretaris Jenderal Akumindo, Edy Misero, mengatakan plastik merupakan kebutuhan yang tidak terpisahkan dari aktivitas ekonomi masyarakat. Karena itu, gangguan pasokan maupun kenaikan harga bahan baku plastik akan berdampak luas ke berbagai sektor usaha.
“Plastik itu sudah menjadi kebutuhan masyarakat. Jadi apapun pergerakannya, termasuk kesulitan impor biji plastik, pasti berdampak terhadap kebutuhan di dalam negeri,” ujar Edy kepada Katadata.co.id, pada Kamis (9/4).
Namun di tengah tekanan itu, banyak pelaku UMKM memilih tidak serta-merta menaikkan harga jual. Mereka justru menahan harga dan mengurangi margin keuntungan agar tetap kompetitif di pasar.
“Salah satu alternatifnya, menaikkan harga seminimal mungkin. Kedua, mengurangi margin profit. Misalnya dari 15% menjadi 10%, selisihnya dipakai untuk menutup kenaikan biaya plastik,” kata Edy.
Langkah ini diambil agar produk tetap terjangkau bagi masyarakat, terutama di tengah kekhawatiran pelemahan daya beli. Meski demikian, strategi tersebut membuat ruang keuntungan pelaku usaha semakin sempit.
Menurut Edy, dampak kenaikan harga plastik dapat dibagi ke dalam dua kelompok UMKM. Pertama, pelaku usaha yang menjadikan plastik sebagai bahan baku utama, seperti produsen barang berbahan plastik, kemasan makanan, hingga produk turunan lainnya. Kelompok ini disebut paling terdampak karena kenaikan harga langsung memukul biaya produksi.
“Kemudian ada UMKM yang menggunakan plastik sebagai pembungkus atau penunjang, misalnya pedagang di pasar. Dampaknya tetap ada, tapi tidak sebesar yang menjadikan plastik sebagai bahan baku utama,” katanya.
Harga Plastik Naik, Biaya Produksi UMKM Melonjak
Meski belum ada angka pasti di tingkat UMKM, Edy memperkirakan kenaikan harga biji plastik yang mencapai sekitar 50% akan berimbas langsung ke harga produk yang menggunakan bahan tersebut. Artinya, tekanan biaya produksi berpotensi meningkat dalam skala yang sama.
Kondisi ini, menurut dia, pada akhirnya akan mendorong kenaikan harga di tingkat konsumen. “Kalau bahan bakunya naik, pasti produk akhirnya ikut naik,” ujarnya.
Di sisi lain, Edy menilai pemerintah perlu segera mengambil langkah untuk meredam tekanan harga. Salah satunya dengan mendorong pengelolaan limbah plastik agar dapat didaur ulang menjadi bahan baku.
“Plastik harus dipilah dan diolah kembali agar bisa jadi bahan baku. Itu bisa membantu mengurangi ketergantungan pada impor,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah juga didorong mencari sumber impor alternatif untuk biji plastik guna menjaga pasokan tetap stabil. Pasalnya, kebutuhan plastik di dalam negeri dinilai terus meningkat seiring aktivitas ekonomi masyarakat.

Produk UMKM Unggulan 