Harga Pupuk Global Diprediksi Naik 31% Tahun Ini, Bisa Ancam Ketahanan Pangan
Bank Dunia memperkirakan harga pupuk global naik 31% secara tahunan atau year on year (YoY) sepanjang 2026 akibat terganggunya pasokan bahan baku di tengah ketegangan geopolitik. Kenaikan itu diprediksikan menekan biaya produksi pertanian dan berpotensi mendorong lonjakan harga pangan dunia.
Dalam laporan Commodity Markets Outlook edisi April 2026, Bank Dunia menyebut negara-negara yang terlibat konflik saat ini sebagai pemasok utama pupuk global. Gangguan rantai pasok dari kawasan tersebut membuat harga pupuk naik tajam, terutama pupuk berbasis gas alam.
“Indeks harga pupuk Bank Dunia diproyeksikan meningkat 31% pada 2026, sebelum sedikit mereda pada 2027,” tulis laporan tersebut, dikutip pada Kamis (30/4).
Kenaikan harga pupuk tahun ini terutama dipicu lonjakan harga urea yang diperkirakan mencapai 60%. Urea adalah jenis pupuk yang sangat bergantung pada gas alam sebagai bahan baku utama, sehingga sensitif terhadap gejolak energi global.
Sementara itu, kenaikan harga pupuk jenis lain seperti potash diperkirakan lebih moderat karena kebutuhan gas alamnya lebih rendah.
Bank Dunia menilai lonjakan harga pupuk jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kenaikan harga pangan global. Kondisi ini diperkirakan memperburuk keterjangkauan pupuk bagi petani ke level terburuk sejak 2022 dan menekan margin keuntungan sektor pertanian.
Jika harga pupuk terus tinggi, petani berpotensi mengurangi penggunaan pupuk, yang pada akhirnya dapat menurunkan hasil panen di sejumlah wilayah. Situasi tersebut berisiko mengancam ketahanan pangan global.
“Jika gangguan akibat perang berlangsung lebih lama dari perkiraan, harga pupuk bisa naik lebih tinggi lagi dan mengurangi hasil panen di beberapa kawasan,” tulis Bank Dunia.
Harga Pangan Diproyeksi Naik
Di sisi lain, Bank Dunia memproyeksikan indeks harga pangan global naik sekitar 2% pada 2026 dan meningkat tipis pada 2027. Kenaikan ini direvisi naik dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya.
Kendati demikian, kenaikan harga pangan tahun ini dinilai masih terbatas karena pasokan gandum global relatif melimpah pada awal guncangan. Selain itu, produksi pangan dunia berasal dari banyak negara sehingga risiko gangguan pasokan tidak terpusat.
Tekanan harga pangan diperkirakan paling terasa pada minyak nabati dan produk pakan ternak yang juga digunakan sebagai bahan baku biofuel. Harga minyak sawit dan minyak kedelai diproyeksikan sama-sama naik 8% pada 2026.
Secara keseluruhan, indeks harga komoditas pertanian Bank Dunia, yang mencakup minuman, pangan, dan bahan baku pertanian, diperkirakan justru turun 6% pada 2026.
Penurunan ini terutama dipicu anjloknya harga komoditas minuman, yang menutupi kenaikan harga pangan dan stabilnya harga bahan baku pertanian lainnya. Namun, Bank Dunia mengingatkan bahwa lonjakan biaya pupuk tetap menjadi risiko utama bagi sektor pangan global sepanjang tahun ini.
