Pengusaha Padat Karya Waspada Sinyal Pelemahan Industri, Risiko PHK Meningkat

Kamila Meilina
5 Mei 2026, 18:17
Pekerja menyelesaikan proses produksi cat di pabrik PT Jotun Indonesia yang baru diresmikan di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu (15/4/2026). Kementerian Perindustrian menargetkan pertumbuhan manufaktur lewat industri pengolahan non migas pada
ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/wsj.
Pekerja menyelesaikan proses produksi cat di pabrik PT Jotun Indonesia yang baru diresmikan di Cikarang, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Rabu (15/4/2026). Kementerian Perindustrian menargetkan pertumbuhan manufaktur lewat industri pengolahan non migas pada 2026 mencapai 5,51 persen dengan nilai investasi Rp852,9 triliun untuk menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat.
Button AI SummarizeMembuat ringkasan dengan AI

Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyatakan belum menerima laporan resmi terkait kabar rencana pemutusan hubungan kerja (PHK) massal oleh 10 perusahaan pada Juli 2026. Meski demikian, pelaku usaha mulai mewaspadai sinyal pelemahan industri, terutama di sektor manufaktur padat karya.

Ketua Apindo, Shinta Widjaja Kamdani menyampaikan masih akan melakukan pengecekan dan konsolidasi internal dengan perusahaan anggota serta asosiasi sektoral untuk memastikan kebenaran informasi tersebut.

“Apindo saat ini belum menerima laporan resmi. Kami akan melakukan pengecekan dan konsolidasi internal terlebih dahulu untuk memastikan validitas dan konteks dari informasi tersebut,” kata Shinta kepada Katadata.co.id, Senin (4/5).  

Laporan ini sebelumnya disampaikan oleh Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mengenai ancaman PHK oleh 10 perusahaan yang bisa terjadi dalam tiga bulan ke depan. KSPI tak memerinci nama serta sektor industri yang berpotensi melakukan PHK tersebut. 

Meski belum menerima laporan terkait hal itu, Shinta menilai terdapat early warning signals yang perlu dicermati dalam dunia usaha di dalam negeri. 

Sejumlah indikator menunjukkan pelemahan kinerja industri sejak Maret 2026, meskipun periode kuartal I umumnya ditopang permintaan musiman seperti tahun baru, Imlek, Ramadan, dan Lebaran.

Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur S&P Global tercatat sebesar 50,1 pada Maret 2026, terendah dalam delapan bulan. Indeks Kepercayaan Industri (IKI) juga turun ke 51,86, sementara Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) melemah ke 122,9, mencerminkan pelunakan permintaan domestik.

Tekanan berlanjut pada April 2026, ketika PMI manufaktur turun ke level 49,1 atau di bawah ambang netral 50, menandai kontraksi pertama dalam sembilan bulan terakhir. Penurunan ini mencerminkan memburuknya kondisi operasional industri akibat kenaikan biaya dan gangguan pasokan.

Shinta mengidentifikasi tekanan terhadap dunia usaha terjadi melalui tiga kanal utama. Pertama, tekanan biaya akibat lonjakan harga energi dan bahan baku. Kedua, penurunan permintaan seiring meningkatnya inflasi global yang menekan daya beli. Ketiga, pengetatan finansial yang dipicu kenaikan yield global dan pelemahan nilai tukar rupiah, sehingga meningkatkan biaya impor dan memperketat akses pembiayaan.

Dalam kondisi tersebut, pelaku usaha cenderung melakukan penyesuaian biaya dan rasionalisasi output untuk menjaga keberlangsungan usaha. Namun, Apindo menegaskan PHK merupakan langkah terakhir.

“PHK adalah opsi terakhir. Dunia usaha akan berupaya semaksimal mungkin untuk mempertahankan tenaga kerja melalui berbagai langkah mitigasi,” kata dia.

Sejalan dengan pelemahan produksi, perusahaan manufaktur mulai mengurangi pembelian bahan baku dan tenaga kerja. Tingkat PHK tercatat masih moderat, namun menjadi yang tertinggi dalam 10 bulan terakhir.

Selain itu, tekanan rantai pasok masih berlangsung, ditandai dengan keterlambatan pengiriman pemasok selama tujuh bulan berturut-turut. Untuk menjaga produksi, perusahaan memanfaatkan stok yang ada, sementara persediaan barang jadi meningkat akibat lemahnya penyerapan pasar.

Dari sisi biaya, inflasi input pada April 2026 tercatat sebagai yang tertinggi dalam empat tahun terakhir. Kenaikan tersebut mendorong harga jual naik pada laju tercepat dalam lebih dari satu dekade.

add katadata as preferred source
Baca artikel ini lewat aplikasi mobile.

Dapatkan pengalaman membaca lebih nyaman dan nikmati fitur menarik lainnya lewat aplikasi mobile Katadata.

mobile apps preview
Reporter: Kamila Meilina

Cek juga data ini

Artikel Terkait

Video Pilihan
Loading...